[ RILIS DISKUSI ] UJARAN SEKSUAL DALAM RUANG PUBLIK: “Rahim Anget” Karena Tubuh Jojo

 

 

Lensa Deliberation: Ujaran Seksual Dalam Ruang Publik

Media sosial baru-baru ini hangat memperbincangkan seorang atlet di Asian Games bernama Jonathan Christie, atau yang biasa dipanggil Jojo. Atlet Indonesia yang mendapat medali emas cabang olahraga bulu tangkis ini melejit namanya bukan hanya karena prestasinya, sebagian orang mengatakan ketenarannya di muka publik juga dikarenakan paras dan aksinya yang menarik perhatian. Selebrasi “Buka baju” ala Jojo di dua laga final Asian Games cabang olahraga bulu tangkis tunggal putra menyebabkan namanya menjadi sorotan. Banyak penggunaa media sosial yang menuliskan komentar terkait hal tersebut, sebagian besar di antaranya adalah perempuan. Komentar-komentar tersebut tidak hanya berisi pujian dan ekspresi kekaguman, beberapa warganet juga menuliskan ekspresi seksual mereka melalui komentar seperti:

 “#jojobukabaju kenapa sih cuma kaosnya doang yang dibuka .. Gemes deh pengen merosotin celananya HAHAHA ..”

“Aaak gantengnya! Rahim gue anget”

Selain rahim anget, ada pula beberapa kalimat yang menjadi populer di media sosial belakangan ini misalnya “ovarium meledak”, “tuba fallopi bergetar”, “serviks melebar”, hingga “hamil online”.

Berdasarkan fenomena tersebut, Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Fikom Unpad, pada Kamis (13/9) mengadakan diskusi bersama beberapa mahasiswa Fikom Unpad. Hasil diskusi tersebut menyebutkan bahwa komentar-komentar yang ditulis warganet terkait Jojo merupakan bentuk dari ujaran seksual. Ujaran seksual sendiri memang belum memiliki definisi pasti, tetapi berdasarkan makna dari masing-masing kata, ujaran berarti kalimat yang dilisankan dan seksual berarti berkaitan dengan seks atau jenis kelamin. Seperti halnya ujaran seksual, ekspresi seksual pun belum memiliki definisi pasti, akan tetapi seorang Penulis dan Praktisi Pendidikan Seksual bernama Cory Silverberg menyatakan bahwa ekspresi seksual tidak hanya terbatas pada pengungkapan aktivitas seksual semata, ekspresi seksual juga meliputi pikiran, perasaan, hasrat, harapan, dan bahkan impian terkait seksualitas.

Berkaitan dengan komentar-komentar yang dilontarkan oleh warganet tersebut sebagian orang menganggap hal tersebut sebagai ekspresi seksual belaka, alasannya karena dalam mengungkapkan komentar tersebut tidak ada relasi kuasa yang dimiliki warganet terhadap Jojo. Sebagaimana menurut Pengamat Gender dan Seksualitas UI, Irwan Hidayana menyampaikan bahwa bisa jadi komentar-komentar tersebut menjadi kebanggan bagi Jojo sebagai laki-laki karena memiliki tubuh maskulin yang (dianggap) ideal berdasarkan konstruksi sosial masyarakat saat ini.

Objektifikasi kepada bentuk tubuh orang disini terlalu dibesar-besarkan oleh media dan kita tidak bisa menyalahkan media sepenuhnya karena disitulah fungsi atau peruntukan media. Banyak pendapat yang bermunculan pada kasus ini yang intinya hanya dibuat media untuk membentuk persepsi di masyarakat. Di media sosial semua orang dapat meberikan atau mengutarakan pendapatnya karena media sosial merupakan ruang yang bebas.

Namun, sebagian yang lain mengatakan bahwa hal tersebut sudah masuk pada ranah seksis dan merupakan suatu tindak pelecehan seksual. Hal ini karena komentar-komentar tersebut dirasa tidak menghargai Jojo sebagai atlet, meskipun Jojo sendiri tidak menyadari bahwa komentar-komentar yang ditujukan kepadanya mengarah pada pelecehan seksual, tetapi fonemenai ini jelas menunjukkan adanya objektifikasi tubuh Jojo sebagai atlet.

Beberapa orang beranggapan bahwa seharusnya kasus seperti ini tidak seharusnya dibesar-besarkan karena dianggap sebagai candaan biasa. Hal tersebut sering terjadi dan beberapa orang yang menjadi sasaran juga tidak mempermasalahkannya atau bahkan bangga dengan ujaran seperti itu. Di kalangan feminis, “pelecehan” yang menimpa Jojo menjadi permasalahan besar karena sering terjadi di media sosial. Ini dikarenakan teori feminisme memiliki landasan yang kuat terkait dengan objektifikasi di media sosial.

Dalam teori-teori feminisme, ada banyak perspektif dari yang menyatakan bahwa objektifikasi yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki adalah tidak sama. Beberapa argumen dari teori feminisme, khususnya dari gelombang kedua, yang menyediakan argumentasi yang kuat dalam analisis patriarki. Perspektif pertama yang paling sederhana adalah perspektif budaya pemerkosaan. Budaya pemerkosaan memosisikan perempuan selalu sebagai objek seksual yang agensinya tiba-tiba berubah ketika ia menjadi korban. Perempuan selalu dilihat sebagai tubuh dan wajahnya saja, tidak peduli apa pun profesinya, apakah seorang jurnalis, hakim, akuntan, atau dokter, sehingga selalu ada embel-embel penampilan fisik seperti “politikus cantik”, “dokter cantik”, sampai “mayat cantik”. Tetapi ketika perempuan menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan, perempuan disalahkan karena dianggap memancing tindakan-tindakan tersebut.

Objektifikasi perempuan terjadi karena masyarakat kita mempunyai budaya pemerkosaan yang menyerang feminitas. Perempuan yang memiliki keperempuanan dianggap inferior dan wajar apabila dikuasai melalui pemerkosaan. Objektifikasi perempuan adalah bagian dari penguasaan kelelakian terhadap keperempuanan dan dalam bentuk-bentuk lebih lanjut menjadi pelecehan atau pemerkosaan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil diskusi yang diadakan Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Fikom Unpad, pada Kamis (13/9) menyebutkan bahwa komentar-komentar yang ditulis warganet terkait Jojo merupakan bentuk dari ujaran seksual. Berdasarkan makna dari masing-masing kata, ujaran berarti kalimat yang dilisankan dan seksual berarti berkaitan dengan seks atau jenis kelamin. Sebagian orang menganggap hal tersebut sebagai ekspresi seksual belaka, sebagaimana menurut Pengamat Gender dan Seksualitas UI, Irwan Hidayana menyampaikan bahwa bisa jadi komentar-komentar tersebut menjadi kebanggan bagi Jojo sebagai laki-laki karena memiliki tubuh maskulin yang (dianggap) ideal berdasarkan konstruksi sosial masyarakat saat ini. Sebagian orang yang lain beranggapan bahwa seharusnya kasus seperti ini tidak seharusnya dibesar-besarkan karena dianggap sebagai candaan biasa. Di kalangan feminis, “pelecehan” yang menimpa Jojo menjadi permasalahan besar karena sering terjadi di media sosial. Berbeda dengan kalangan anti-feminis yang merespon masalah tersebut adalah bumerang kepada kalangan feminis karena korban pada kasus ini adalah laki-laki dan beranggapan ini merupakan bentuk “perlawanan” perempuan kepada lawan jenisnya karena biasa dijadikan objek pelecehan.

Oleh: Dita Ariane dan Siti Nurul F

 

Departemen Kajian dan Aksi Strategis

BEM Bima Fikom Unpad 2018

Kabinet Archipelago

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *