Bedah Film Madona dan Memoria: Ancaman Kasus Kekerasan Seksual di Tengah Masyarakat

Kegiatan Bedah Film Madonna dan Memoria merupakan program kerja Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM Fikom Unpad Kabinet Pancarona, berkolaborasi dengan Cinematography Club (CC) Fikom Unpad, diselenggarakan pada 20 September 2020.

Kegiatan ini merupakan rangkaian screening film pendek yang memuat tema tentang kekerasan seksual, yaitu Madonna dan Memoria. Madonna (2017) merupakan film pendek besutan Sinung Winayoko. Secara singkat, film ini mengisahkan tentang kasus kekerasan seksual yang dialami oleh kakak-beradik (Melati dan Ilalang) yang sedang bekerja di perairan lepas, oleh majikannya sendiri.

Film Memoria (2016) disutradarai oleh Kamila Andini, mengisahkan Maria, seorang ibu dan penyintas kekerasan seksual yang terjadi ketika konflik Timor Leste. Setelah berumah-tangga dan memiliki anak bernama Flora, ia masih diterpa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh suaminya sendiri.

Selain screening film, kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi daring terkait tema tersebut. Untuk menuntun jalannya diskusi agar tepat sasaran dan berdaya guna, kami mengundang dua narasumber ahli, yaitu Talissa Febra dan Gorivana Ageza.

Talissa Febra atau Tassa merupakan anggota dari Samahita Bandung, komunitas yang bergerak di bidang pendampingan sosial korban atau penyintas kekerasan seksual. Komunitas ini mengutamakan pemulihan korban dan advokasi tindak kekerasan seksual, terutama yang berlokasi di Bandung.

Lalu Gorivana Ageza atau Echa, ia merupakan pengamat film yang berasal dari komunitas Bahas Sinema. Komunitas yang telah berdiri sejak 2015 ini berfokus kepada pemutaran dan kajian film. Kegiatan komunitas ini bisa diakses di laman website bahasinema.com dan media sosial Instagram @bahasinema.

Audiens mulai memasuki ruang Zoom pukul 15.00 WIB. Setelah itu, kegiatan dibuka oleh moderator acara, Namira Fathya, mahasiswa Fisip UI yang memiliki kepedulian akan kasus kekerasan seksual dan juga memiliki ketertarikan dengan perfilman. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi screening film yang dimulai dari pukul 15.35 WIB. Audiens diberi waktu satu jam untuk menonton film yang disediakan di link Google Drive.

Setelah waktu screening film habis, audiens diperkenankan untuk memasuki kembali ruang Zoom untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya, yaitu diskusi dengan narasumber ahli. Rangkaian diskusi dimulai dengan pertanyaan Namira Fathya kepada para narasumber mengenai tanggapan mereka tentang kedua film, sekaligus mempersilahkan narasumber untuk memaparkan materi yang telah dipersiapkan.

Echa menanggapi kedua film tersebut sebagai film yang sangat bisa membuat penontonnya ikut sedih dan getir melihat kasus kekerasan seksual yang dialami karakternya. Selain itu, menurutnya terdapat banyak simbol hierarkis yang ditunjukkan di kedua film tersebut.

Dengan banyaknya simbol hierarkis, kedua film tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu adanya relasi kuasa yang ditunjukan dalam simbol tertentu atau karakter. Dalam film Madonna, terdapat simbol hierarkis berupa patung Bunda Maria, poster Soeharto, dan mandor. Lalu di Memoria, tentara atau TNI direpresentasikan sebagai kuasa negara sekaligus lelaki yang melecehkan perempuan. Tentara tersebut juga menampilkan kesombongan dan kejumawaan aparat keamanan di Indonesia.

Dalam relasi kuasa tersebut, menurut Echa, perempuan lah yang paling dikorbankan sebagai pihak yang menempati posisi paling bawah dalam sebuah hierarki relasi kuasa. Terlihat dari adegan akhir film Madonna, di mana Melati menjadi objek pelampiasan dengan adegan yang menggetirkan, dan juga nasib karakter Maria di film Memoria, ketika Timor Leste telah merdeka dari Indonesia, Maria masih belum mendapatkan kemerdekaan atas tubuhnya yang tetap dirusak oleh suaminya sendiri.

Walaupun begitu, sosok perempuan di kedua film tersebut (Melati, Maria, dan Bunda Maria) ditunjukan dengan cara yang menarik. Salah satunya, ada tendensi membawa imaji kesucian perempuan dalam adegan menutup mata patung Bunda Maria.

Echa menambahkan, dalam film Memoria, pernikahan ditunjukkan sebagai satu-satunya jalan keluar atau solusi tunggal atas segala permasalahan, terutama kemiskinan. Pernikahan dijadikan sebagai bagian dari kegiatan transaksional, di mana perempuan yang menjadi objek dari transaksi tersebut. Padahal, terlihat dari nasib Maria, pernikahan bisa jadi hanya sebagai perpindahan dari satu penindasan ke penindasan lain. Karakter Flora adalah sosok yang tidak punya pengetahuan, dan kenaifannya membawa imajinasi bahwa nikah adalah jalan menuju kebebasan dan kemerdekaan, padahal nyatanya tidak.

Terakhir, Echa mengatakan film Memoria mungkin terinspirasi dari tulisan Aida Milasari, mengisahkan kasus perkosaan istri orang Timor Leste oleh tentara, tentara tersebut dibunuh kemudian dibalas dengan tentara menyerbu desa dan membunuh semua laki-laki di desa itu. Desa tersebut pun dikenal dengan “Desa Para Janda”.

Selanjutnya tanggapan Tassa mengenai kedua film tersebut, ia mengatakan, kedua film tersebut jelas memperlihatkan bahwa kasus kekerasan seksual bukan hanya tentang hasrat seksual, melainkan cara untuk mendominasi antara pihak yang relasi kuasanya tidak seimbang.

Pada dasarnya, korban kekerasan seksual memiliki cara tersendiri untuk mengobati lukanya, tidak terkecuali para korban yang ada di kedua film tersebut. Menurut Tassa, lelaki yang ada di Madonna (Ilalang) melakukan pelampiasan ke adiknya sebagai cara untuk mengobati keresahannya. Lalu di Memoria, Maria mengobati dirinya dengan menyimpan sakitnya sendiri. Hal tersebut adalah beban para korban kekerasan seksual, mereka mengobati lukanya sendiri dan ingin melindungi orang-orang terdekatnya.

Tassa pun memberikan materi singkat tentang fenomena kekerasan berbasis gender. Kekerasan berbasis gender adalah serangkaian tindak kekerasan, penganiayaan, perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan kepada seseorang khususnya perempuan dan kelompok minoritas gender lainnya didasari oleh kondisi ketidaksetaraan gender.

Ada banyak jenis kekerasan berbasis gender, yaitu kekerasan fisik, psikis, ekonomi, seksual, verbal, sosial, dan kekerasan gender berbasis online. Kekerasan seksual biasanya juga disertai dengan kekerasan psikis atau mental, dan masalah utamanya ada di ketimpangan relasi kuasa.

Berdasarkan Foucault, relasi merupakan hubungan, yang bisa jadi positif jika seimbang, dan kuasa merupakan sebuah sistem dominasi atau resistensi. Dalam kasus kekerasan seksual, relasi kuasa tidak hanya terbatas kepada masalah gender, namun bisa juga relasi ekonomi, pendidikan, umur, status, sosial. Contohnya kasus kekerasan seksual yang ada di Film Madonna, masalah tidak terbatas pada gender korban dan si pelaku, tapi juga ada kuasa si mandor terhadap pekerjanya.

Terakhir, Tassa juga menyampaikan perihal bagaimana cara kita menolong korban kekerasan seksual, di antaranya kita bisa mendengarkan kisah mereka, mencari tahu kebutuhannya, jangan menghakimi dan memaksakan pendapat, lalu menghubungi kontak lembaga pelayanan terdekat.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para audiens diperkenankan untuk bertanya seputar tema dan film yang telah ditayangkan. Sesi ini dimulai dengan sharing salah satu audiens bernama Shafira Maulizar yang berasal dari Aceh. Ia bercerita kisah film Memoria juga dialami oleh masyarakat Aceh ketika menjadi daerah operasi militer. Pada saat itu, banyak kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh pihak militer. Sayangnya kasus-kasus tersebut tidak banyak terungkap dan diketahui publik.

Selanjutnya pertanyaan dari Dihan, ia bertanya apakah penggambaran adegan pemerkosaan yang eksplisit di media massa terutama di film itu dampaknya baik atau buruk, atau bahkan sebenarnya tidak diperlukan. Echa menjawab, hal tersebut balik lagi ke concern si filmmaker apakah ia bisa menampilkan adegan dengan baik atau malah jadi eksploitasi. Seharusnya ia bisa tahu batas penampilan seksual yang sifatnya seni dan eksploitasi.

Tassa menanggapi, penggambaran adegan kekerasan seksual harus dilihat dari sisi korban. Adegan tersebut harusnya ditampilkan sebagai bentuk kritik atas kasus tersebut, jika memungkinkan, adegan disampaikan secara tersirat saja sebagai shock value. Selain itu, harus ada content warning yang jelas sehingga penonton bisa mengetahuinya terlebih dahulu.

Pertanyaan selanjutnya dari Fariza. Kedua film memiliki latar di daerah pedalaman dan terpencil, pasti banyak korban yang tidak tahu harus melapor ke mana. Ia bertanya bagaimana solusinya dan pendekatan kepada korban yang berada di pelosok tersebut.

Tassa menjawab, ia sebagai pihak advokasi korban kekerasan seksual terus mencoba membantu korban dari berbagai daerah dan berkoneksi dengan jaringan terdekat. Ia juga mengingatkan agar kita waspada dan membangun relasi dengan teman-teman dekat, serta mengajari orang terdekat apa yang harus dilakukan jika terjadi kekerasan seksual.

Lalu Echa menanggapi, jangankan memikirkan kemana ia melapor, masih banyak korban tidak tahu dan sadar bahwa ia adalah korban kekerasan seksual. Maka dari itu, kesadaran perlu dikembangkan dari lingkungan sosial terdekat. Kelas menengah dan urban saja masih banyak kasus, kesadaran tersebut harus tetap dikembangkan sampai pelosok-pelosok, karena seringkali kasus kekerasan seksual berbenturan dengan penilaian dan dilematika sosial.

Selanjutnya pertanyaan dari Shafira untuk Tassa, mengenai cara mengatasi ekspresi ketika mendengar cerita tentang kekerasan seksual tanpa membuat korban minder. Tassa menjawab, biasanya korban tidak akan terlalu fokus ke wajah kita. Kita sendiri harus fokus ke diri korban dan apa yang bisa kita lakukan untuk dia, karena jika korban cerita ke kita, berarti korban telah memercayai kita. Cukup mendengar cerita korban dan membuat ia nyaman tanpa menghakimi juga sudah baik. 

Tidak hanya audiens, ternyata Echa juga ingin bertanya ke Tassa, mengenai seperti apa keadaan mental pendamping jika dihujani dengan kisah-kisah kekerasan seksual dan hal apa yang menjadi endurance untuk tetap berjuang. Tassa menjawab, biasanya ada 1-2 orang yang menganai satu kasus ringan, namun jika kasus berlapis misal sekaligus kasus ekonomi, bisa 3-5 orang.

Setiap tim tersebut ada yang mengurus bagian hukum, advokasi korban, pelaku, dll. Divisi pendampingan juga ada kelas sendiri yang diisi oleh dokter dan psikiater agar mengerti kapasitas emosional dan kemampuan sendiri. Para pendamping sangat mengandalkan komunikasi jujur dan terbuka, jika ada yang tidak sanggup bisa keluar, jangan sampai depresi.

Pertanyaan selanjutnya dari Daffi, mengenai cara pendekatan kepada penyintas untuk menceritakan pengalamannya ketika ia ingin membuat film tentang kekerasan seksual, dan bagaimana cara mengemas pengalaman tersebut agar tidak terkesan mengeksploitasi. Echa menjawab, penting untuk filmmaker merasa empati dan menempatkan di posisi yang sama dengan korban. Buat korban merasa nyaman, kalau bisa konsultasi dengan ahli, misal pendamping atau psikolog. Filmmaker juga harus punya gambaran jelas tentang isu, dan Echa memberi saran agar dikemas secara fiksi untuk memperhalus isu, bukan medium dokumenter.

Lalu menurut Tassa, biasanya jarang sekali ada korban yang ingin menceritakan kasusnya ke publik. Jika tujuannya untuk membangun awareness, jangan menempatkan korban di depan kamera, apalagi sampai eksploitasi tanpa menggunakan perspektif korban. Dan jika sudah yakin, presentasikan secara hati-hati tanpa membuat korban trauma, setelah ada banyak pertimbangan.

Pertanyaan terakhir datang dari Rein Venareal. Ia bertanya mengenai adat istiadat di film Memoria yaitu budaya belis, di mana wanita bisa dibeli melalui pernikahan, bagaimana mengatasi sistem budaya seperti itu tanpa menghilangkan (menyinggung) budaya setempat.

Tassa menjawab, nilai agama biasanya tidak bisa dilawan, namun sebagai orang yang mampu untuk menolong sebaiknya kita menolong korban dan memberikan pendampingan untuk korban tindak kekerasan.

Echa menanggapi, budaya merupakan bentuk pemaknaan yang selalu berubah seiring berjalannya waktu. Harus memunculkan kesadaran dan sudut pandang bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang dicangkok begitu saja dan tidak semua orang bisa terima dan mempertahankannya. Kita sendiri juga harus terus mengkritisi budaya.

Kegiatan Bedah Film ini selesai pada pukul 18.05 WIB, ditutup dengan pemaparan kesimpulan oleh Namira Fathya dan sesi foto bersama seluruh audiens.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *