Rilis Diskusi Publik #2: Ada Apa Dengan Kebebasan Berpendapat di Indonesia?

Beberapa waktu lalu dunia maya Indonesia sempat dibuat heboh, terutama dalam kalangan akademisi. Hal ini dikarenakan kemunculan sebuah postingan pada akun media sosial BEM UI dengan judul “The King of Lip Service”. Pada postingan tersebut BEM UI menyampaikan kritikannya terhadap Presiden Indonesia, Joko Widodo yang kerap kali memberikan tutur kata halus dan janji semata kepada warganya, “Jokowi kerap kali mengobral janji manisnya, tetapi realitanya sering kali tak selaras. Katanya begini, faktanya begitu. Mulai dari rindu didemo, revisi UU ITE, penguatan KPK, dan rentetan janji lainnya,” tulis @BEMUI_Official.

Lantas hal tersebut pun menuai banyak pro dan kontra. Beberapa pihak menyatakan bahwa BEM UI telah melakukan Langkah yang tepat dengan berani mengkritik kinerja pemerintah, namun tak banyak pihak yang tidak setuju pula dengan hal tersebut. Salah satunya datang dari pihak rektorat UI yang melakukan intervensi terhadap langkah yang diambil oleh BEM UI, selanjutnya aksi protes pun datang dari tokoh publik yang sempat mengatakan bahwa mahasiswa harusnya belajar saja, tidak perlu melakukan protes seperti itu.

Menyadari adanya permasalahan tersebut, BEM FIKOM Universitas Padjadjaran kemudian mencoba untuk mengadakan ruang diskusi publik dengan tema “Ada Apa Dengan Kebebasan Berpendapat di Indonesia?”. Diskusi publik dilaksanakan pada Jumat, 23 Juli 2021 dengan mengundang dua pembicara hebat, yang pertama ialah Dr. Suwandi Sumartia, M.Psi. yang merupakan seorang Dosen komunikasi politik dan perburuhan FIKOM Universitas Padjadjaran. Lalu pembicara kedua ialah Heri Pramono yang merupakan perwakilan dari LBH Bandung.

Diskusi dimulai pada pukul 13.30, diawali dengan pemaparan dari narasumber pertama,  yaitu Dr. Suwandi Sumartia, M.Psi. yang menyebutkan bahwa, setiap perubahan di setiap negara pasti melibatkan mahasiswa. Tidak ada revolusi suatu negara yang tidak melibatkan mahasiswa. Demokrasi tetap mengalami dinamika bahkan di negara maju. Menurut Suwandi, baik di negara maju ataupun negara berkembang, demokrasi akan terus mengalami dinamika yang berubah-ubah, hal ini dikarenakan bentuk politik yang begitu cair.  Oleh karena itu, diperlukan sebuah pemikiran kritis dari para jiwa-jiwa muda untuk memecahkan permasalahan yang ada, kasus-kasus seperti COVID-19, politik, atau penyelewengan dana bansos merupakan beberapa contoh permasalahan negara yang masih bisa belum terselesaikan dengan baik.

Selanjutnya, Suwandi membahas mengenai fenomena kebebasan berpendapat di Indonesia yang erat kaitannya dengan UU ITE dan UU KUHP. Menurutnya, kebebasan berpendapat di Indonesia masih jadi sesuatu yang “debatable”, hal ini dikarenakan pemerintahan kita yang memiliki kekuasaan absolut atau totaliter. Padahal dalam kemajuan suatu negara perlu adanya keseimbangan antara kenyataan dan pengkritik, akan berbahaya jika suara para kaum kritis selalu dibungkam. Suwandi menyebutkan salah satu faktor dari pembungkaman tersebut adalah terlalu banyaknya pasal karet yang menyebabkan kebebasan berpendapat jadi sesuatu yang berbahaya. Selain itu, Suwandi sempat menyebutkan bahwa di zaman Sekarang ini media sosial menjadi sesuatu yang berbahaya, media seperti Youtube, Facebook, Twitter, dan Instagram sering kali menjadi  medium politik yang disalahgunakan.

Terakhir, Suwandi menyebutkan bahwa fenomena kebebasan berpendapat di Indonesia sangat erat kaitanya dengan faktor high context dan low context yang melekat di masyarakat Indonesia. Beberapa orang di pulau Jawa akan menganut nilai high context yang artinya sopan santun dan ramah tamah merupakan sesuatu yang amat dijunjung tinggi, sementara banyak warga di luar pulau Jawa menganut nilai low context yang artinya mereka akan lebih to the point ketika melakukan kritik tanpa terlalu memperhatikan nilai sopan santun. Hal ini lah yang kemudian menjadi banyaknya permasalahan kebebasan berpendapat di Indonesia.

Setelah selesai pemaparan materi dari Suwandi Sumartia, diskusi pun kemudian dilanjutkan oleh Heri Pramono selaku perwakilan dari LBH Bandung. Pada awal pemaparan, Heri sempat menyinggung tentang fenomena BEM UI yang memberi kritik dengan postingan “The King of Lip Service”. Lantas Heri Pramono kemudian menyampaikan jaminan kebebasan berpendapat di Indonesia berdasarkan perspektif hukum. Salah satunya datang dari jaminan dalam UUD 1945 & amandemennya. Selain itu, jaminan berpendapat datang dari jaminan HAM dan ketentuan konferensi internasional. Akan tetapi, dibalik semua jaminan tersebut, terdapat banyak tantangan yang dihadapi masyarakat ketika mereka ingin mendapatkan haknya untuk berpendapat. Kondisi kebebasan berpendapat di Indonesia banyak mengalami reaksi yang berbentuk ancaman. Contohnya, ialah beberapa tahun lalu akun Instagram LBH sempat mengalami peretasan, ketika mereka membahas mengenai UU Cipta Kerja. Selain serangan siber, ada pun berbentuk gugatan seperti pemutusan sarana jaringan di Papua. Hal ini yang kemudian menjadi wajah kebebasan berpendapat di Indonesia.

Walaupun bentuk kebebasan berpendapat sudah dijamin dalam HAM dan UUD 1945, namun akhirnya hal ini pun tetap terjegal dengan adanya UU ITE pada tahun 2020. Sepanjang tahun 2020, YLBHI mencatat terdapat 351 kasus pelanggaran hak dan kebebasan sipil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Mengejutkannya, kasus-kasus tersebut banyak didominasi oleh adanya pelanggaran hak berekspresi serta pernyataan pendapat di muka publik. Lantas, Heri kemudian menyampaikan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kondisi kebebasan berpendapat ini, diantaranya:

  1. Kita semua manusia, harus bebas mengekspresikan diri dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi, ide, serta gagasan tanpa batas
  2. Mempertahankan internet dan semua bentuk komunikasi lainnya
  3. Kita berbicara secara terbuka dan dengan sopan tentang segala macam perbedaan manusia
  4. Mengizinkan untuk tidak ada tabu dalam diskusi dan penyebaran pengetahuan
  5. Kita membutuhkan dan membuat media terbuka yang beragam, sehingga dapat membuat keputusan berdasarkan informasi serta berpartisipasi di dalam politik

Intisari Diskusi Publik:

  • Adanya dialektika demokrasi menjadi poin yang berpengaruh dalam demokrasi dan kebebasan berpendapat di indonesia dari adanya aktor politik, buzzer, media sosial, pendidikan politik, lembaga politik, serta krisis hukum dan kepercayaan.
  • Faktor high context dan low context sering kali jadi pembeda dan awal mula munculnya permasalahan saat terjadi perbedaan dalam kebebasan berpendapat.
  • Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan hak semua orang sesuai Pasal 19 Deklarasi Universal HAM, dengan mematuhi prinsip-prinsip HAM yang universal serta Pasal 28E Ayat 3 UUD 1945. Dengan pasal-pasal tersebut, seseorang seharusnya bisa bebas berpendapat dan berekspresi dengan mematuhi prinsip-prinsip yang ada dan mendapatkan perlindungan hukum.

Analisis Framing Pemberitaan Konflik Israel dan Palestine pada Kompas dan Pikiran Rakyat

I. Pendahuluan

Konflik memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat di suatu kelompok. Konflik merupakan permasalasymbhan sosial yang dihadapi banyak negara, namun penyebabnya mungkin hanya diakibatkan oleh hal yang sifatnya tidak terlalu penting. Keberadaan konflik berdampak pada hancurnya sarana dan prasarana dalam suatu negara, serta munculnya berbagai suasana psikologis yang tidak kondusif untuk hidup secara berdampingan.

Konflik dapat terjadi ketika ada pertemuan antara dua kelompok yang berbeda. Kemudian, akan terjadi interaksi antar kelompok tersebut, baik secara fisik maupun lambang atau simbol-simbol. Adakalanya interaksi tersebut berakhir pada pertentangan. Hal tersebut dapat terjadi karena perbedaan kebutuhan dan kepentingan dalam kelompok tersebut. Perbedaan kepentingan tersebut dapat berakhir pada perebutan wilayah di antara dua kelompok tersebut untuk dapat memperkuat kedudukan mereka sebagai sebuah komunitas.

Konflik Israel-Palestina adalah konflik perebutan wilayah. Konflik ini telah lama berlangsung di wilayah Timur Tengah. Konflik antara Israel dan Palestina telah mencuri perhatian mata dunia, sehingga dunia internasional menjadikan peristiwa ini sebagai isu hangat yang pantas untuk dibicarakan untuk menemukan jalan keluar.

Media di seluruh dunia berlomba-lomba memberitakan konflik ini, terlebih pada tahun 2021 konflik ini kembali memanas. Banyak nilai berita yang telah terpenuhi dalam konflik ini, dari segi nilai berita magnitude, konflik ini telah memakan banyak korban jiwa. Nilai berita human interest juga telah dipenuhi dalam konflik ini, dimana orang yang mengonsumsi berita ini akan merasa tersentuh emosi dan empatinya. Selain itu, nilai berita konflik telah terpenuhi karena ada dua belah pihak yang sedang bertikai, sedangkan dari nilai berita proximity, semua orang telah menyaksikan dan mengetahui konflik ini, secara tidak langsung secara psikologis semua orang akan memiliki keterikatan pikiran dan perasaan dengan objek berita tersebut.

Walaupun semua nilai berita telah terpenuhi dalam berita ini, masyarakat tetap memiliki perbedaan pendapat terhadap adanya konflik ini. Perbedaan pendapat ini sangat dipengaruhi oleh media-media yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Meskipun media telah menaati kode etik jurnalistik dengan ketat, mereka masih dapat menggiring opini publik dengan cara pembingkaian suatu berita yang akan dikonsumsi oleh publik.

Berdasarkan analisis tersebut, tim penulis hendak melihat bingkai yang digunakan oleh Kompas dan Pikiran Rakyat dalam membingkai berita konflik Israel dan Palestina.

Analisis framing ini berangkat dari teori konstruksi sosial yang pertama kali diperkenalkan oleh Peter L Berger bersama dengan Thomas Luckman. Dalam teorinya dinyatakan bahwa realitas tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga merupakan sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Akan tetapi merupakan sebuah bentuk dan dikonstruksi. Hal ini menjadikan sebuah realitas bisa bermakna ganda. Ini berarti bahwa setiap orang mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas.

Robert N. Entman membagi perangkat framing ke dalam empat elemen, yaitu: Define Problems, Diagnose Cause, Make Moral Judgement, dan Treatment Recommendation.

II. Pembahasan

Hasil analisis masalah pada berita  Kompas.id  tanggal 14 Mei 2021 dengan judul: Konflik Israel-Palestina Memanas di Tepi Barat, 4 Tewas 100 Luka-luka

Define Problems. Berita ini masih merupakan kelanjutan berita sebelumnya yaitu mengenai serangan  Pembalasan Polisi Israel terhadap Palestina. Permasalahan berita ini juga bisa dilihat dari leadnya berikut ini:

Sebanyak empat warga Palestina tewas ditembak Israel di Tepi Barat pada Jumat (14/5/2021), termasuk satu orang yang berusaha menikam seorang tentara. Bentrok Israel-Palestina yang memanas di Tepi Barat ini juga membuat lebih dari 100 orang luka-luka di wilayah tersebut. Kerusuhan terbaru di Tepi Barat terjadi setelah Israel menanggapi serangan kelompok bersenjata di Gaza.

Diagnoses Causes.  Penyebab masalah yang dibingkai oleh Kompas pada berita ini adalah Hamas yang yang menguasai wilayah Tepi Barat menembakkan roket-roket ke arah Yerusalem dan warga palestina yang menikam salah satu seorang tentara di pos militer Ofra. Seperti yang terlihat pada kutipan beritanya di bawah ini:

 Bentrokan terjadi setiap hari di Tepi Barat sejak Senin (10/5/2021), setelah Hamas yang menguasai wilayah itu menembakkan roket-roket ke arah Yerusalem. Tentara Israel mengatakan, mereka melumpuhkan seorang penyerang yang berusaha menikam seorang tentara di pos militer Ofra, utara Ramallah. Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi kematian pria itu, dan pria kedua yang dikatakan ditembak mati oleh pasukan Israel di dekat Jenin.

Make Moral Judgement. Penilaian moral dalam berita ini sekali lagi dijatuhkan kepada Israel, yang melanjutkan pemboman untuk membalas tembakan roket dari Palestina yang menewaskan 4 orang warga Palestina dan 100 luka-luka.

Konflik di Gaza juga masih berkecamuk pada Jumat. Pasukan Israel melanjutkan pemboman untuk membalas tembakan roket dari Palestina. Israel juga melakukan serangan udara dan artileri terhadap lebih dari 600 target di Gaza.

Treatment Recommendation. Saran penyelesaian masalah yang dibingkai oleh Kompas pada berita ini adalah adanya gencatan senjata di antara kedua belah pihak untuk menghentikan perang yang semakin memanas di Tepi Barat ini.

Tabel. 1  Konflik Israel-Palestina Memanas di Tepi Barat, 4 Tewas 100 Luka-luka

Define ProblemsSerangan Pembalasan Terhadap Palestina
Diagnoses CausesHamas
Make Moral JudgementIsrael yang melanjutkan pemboman untuk membalas  tembakan roket dari Palestina
Treatment RecommendationGencatan Senjata dari Kedua Belah Pihak
  • Hasil analisis masalah pada berita Kompas.id  tanggal 12 Mei 2021 dengan judul:  Israel-Palestina Dikhawatirkan Menuju Peperangan  

Define Problems. Berita ini masih merupakan kelanjutan berita sebelumnya yaitu mengenai Serangan antara Hamas dan tentara Israel yang terus meluas. Permasalahan berita ini juga bisa dilihat dari leadnya berikut ini:

Konflik antara Israel dan Palestina terus bereskalasi dalam tiga hari terakhir. Baku serang antara Hamas dan tentara Israel yang berkepanjangan dan meluas dikhawatirkan mengarah pada perang total dan terbuka.

Diagnoses Causes.  Penyebab masalah yang dibingkai oleh Kompas pada berita ini adalahIsrael yang melakukan serangan hujan roket di jalur Gaza, Perbatasan Israel dan Palestina dan Hames melakukan serangan balik kearah Jerusalem. seperti yang terlihat pada kutipan beritanya di bawah ini:

Hujan roket terjadi di jalur Gaza, perbatasan Israel dan Palestina, sejak Senin (10/5/2021), menyusul kerusuhan di kompleks Masjid Al Aqsa, Jerusalem, yang melibatkan warga Palestina dan tentara Israel. Ratusan warga Palestina dilaporkan luka-luka dalam bentrokan dengan tentara Israel tersebut.

Beberapa saat kemudian, Hamas, organisasi yang menguasai Jalur Gaza, meluncurkan roket-roket ke Jerusalem barat. Aksi ini dibalas Israel dengan serangan udara ke Gaza. Baku serang berkepanjangan pun terjadi. Hingga Rabu (12/5/2021) sore, 48 orang dikabarkan tewas. Termasuk di dalamnya adalah 14 anak-anak, 3 warga Palestina di West Bank, dan 5 warga Israel. Ratusan orang luka-luka dan kehilangan tempat tinggal.

Make Moral Judgement. Penilaian moral dalam berita ini sekali lagi dijatuhkan kepada kedua belah pihak yang saling balas-membalas serangan tanpa memikirkan jumlah  korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Namun, secara keseluruhan pihak Israel  lebihmembawa pengaruh besar dalam berita ini.

Treatment Recommendation. Saran penyelesaian masalah yang diberikan oleh Kompas yang dibingkai dalam berita ini adalah Adanya tanggapan dari  Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sama-sama meminta Israel dan Palestina menghentikan serangan. Apabila tidak bisa berbarengan, satu pihak harus berjiwa besar untuk berhenti menyerang dan membuka jalan bagi dialog penyelesaian konflik. Erdogan juga meminta agar negara-negara anggota PBB mau mengirim pasukan guna melindungi warga Palestina dan memastikan tidak ada kekerasan selama dialog berjalan.

Tabel. 2 Frame Israel-Palestina Dikhawatirkan Menuju Peperangan

Define ProblemsBaku serang antara Hamas dan tentara Israel yang berkepanjangan dan meluas dikhawatirkan mengarah pada perang total dan terbuka.
Diagnoses Causes.Israel
Make Moral JudgementTitik Berat Penilaian Moral ditunjukan kepaada Israel namun sebenarnya kedua belah pihak memiliki peran terhadap konflik ini
Treatment RecommendationAdanya tanggapan dari  Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sama-sama meminta Israel dan Palestina menghentikan serangan
  • Hasil analisis berita Kompas dengan judul Iran Bantu Kembangkan Senjata Hamas untuk Lawan Israel

Penyebab masalah dalam berita ini fokus pada Iran yang diduga turut serta membantu Hamas untuk melawan Israel dengan menyokong senjata kepada Hamas.

“ Dalam konflik Palestina dan Israel muncul kabar bahwa Iran membantu Hamas mengembangkan rudal mematikan untuk menyerang sasaran jarak jauh ke Israel.”

Titik penilaian moral dijatuhkan kepada Iran yang turut serta membantu Hamas memproduksi senjata untuk melawan Israel. Namun, di satu sisi penilaian moral juga dijatuhkan kepada Israel yang dalam berita tersebut turut dijelaskan bahwa Israel menyerang kelompok militan Palestina hingga menewaskan puluhan orang. Namun, dalam berita tersebut tidak dijelaskan saran terhadap bantuan tersebut.

Define ProblemsIran turut serta membantu Hamas dalam menyokong senjata untuk melawan Israel
Diagnoses CausesIran
Make Moral JudgementBantuan Iran kepada Hamas dalam melawan serangan Israel
Treatment RecommendationNihil
  • Analisis berita Kompas dengan judul Duel Kepentingan Hamas dan Netanyahu dalam Konflik Israel-Palestina 2021

Inti masalah dalam berita ini adalah adu kepentingan antara kelompok militant Palestina dengan Perdana Menteri Israel, Netanyahu. Dalam berita tersebut disebutkan Hamas mengeluarkan ultimatum yang tidak realistis dan di satu sisi, Netanyahu yang sedang mencari modal politik langsung menuduh Hamas melewati ‘garis merah’.

“Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sedang terpojok juga memanfaatkan momen ini untuk mencari modal politik.”

Titik penilaian moral dalam berita ini diajukan kepada dua pihak, yaitu Hamas dan Netanyahu yang sama-sama memiliki kepentingan pribadinya.

Define ProblemsAdu kepentingan antara Hamas dan Netanyahu
Diagnoses CausesHamas dan Netanyahu
Make Moral JudgementTitik penilaian moral dijatuhkan kepada dua belah pihak yang memiliki kepentingan pribadinya
Treatment RecommendationNihil
  • Analisis berita Kompas dengan judul ‘Beri Kami 10 Menit’, Detik-detik Menegangkan Sebelum Israel Ledakan Gedung Al Jazeera

Dalam berita ini analisis masalah dijatuhkan kepada Israel yang menyerang Gedung Al Jazeera. Begitupun dengan titik penilaian moral yang dijatuhkan kepada Israel, terlihat dari wawancara yang hanya diperuntukan untuk mereka yang berada di Gedung tersebut, seperti jurnalis-jurnalis di Gedung tersebut dan menjelaskan bagaimana sulitnya evakuasi manusia dalam Gedung tersebut.

“Youma Al Sayed contohnya, yang hanya memiliki waktu kurang dari satu jam untuk sampai ke tempat aman. Namun hanya ada satu lift yang berfungsi di Jala Tower, gedung 13 lantai (ada juga yang menyebut 11 lantai) di Gaza yang menampung sekitar 60 apartemen hunian dan sejumlah kantor.”

Dalam berita tersebut dijelaskan pula bahwa kantor berita Associated Press dan Al Jazeera tak pernah bersekongkol dengan kelompok militant Palestina.

Gary Pruitt presiden dan CEO AP juga berkata, “Saya beritahu Anda bahwa kami sudah di gedung itu selama sekitar 15 tahun untuk biro kami. Kami jelas tidak merasa Hamas ada di sana.”

Define ProblemsIsrael menyerang Gedung Al Jazeera
Diagnoeses CausesIsrael
Make Moral JudgementPenyerangan Israel ke Gedung Al Jazeera yang dianggap bekerja sama dengan Hamas dan tak memberikan cukup waktu kepada jurnalis di Gedung tersebut untuk mengevakuasi warga Gedung dan peralatan liputan
Treatment RecommendationNihil


Hasil Analasis Berita Pikiran Rakyat dengan Judul: Rakyat Palestina dalam Ancaman ‘Bencana Manusia’ Jika Israel Blokir Sektor Vital

Sumber:

https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-011911814/israel-bisa-sebabkan-rakyat-palestina-dalam-ancaman-bencana-manusia

Define ProblemsSeluruh saluran listrik di Gaza padam akibat pemboman oleh Israel. Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza telah kehabisan bahan bakar setelah Israel menutup satu-satunya jalur penyeberangan perbatasan komersial dengan Gaza. Pemadaman listrik ini mengancam bencana manusia karena adanya pemblokiran terhadap sektor vital seperti kesehatan, sanitasi, dan lingkungan.
Diagnoses CausesPenyerangan yang dilakukan oleh Israel
Make Moral JudgementIsrael seharusnya tidak melakukan pemboman dan juga menutup jalur pembangkit listrik di Gaza
Treatment RecommendationIsrael berhenti untuk melakukan agresi kepada Palestina dan merusak pemukiman dan tempat ibadah

Define Problems:

Listrik di sebagian besar wilayah Gaza telah padam. Hal ini diperparah oleh pemblokiran  penyeberangan perbatasan komersial dengan Gaza. Satu-satunya pembangkit listrik di jalur Gaza telah kehabisan bahan bakar setelah pemerintah Israel melakukan pemblokiran. Pemadaman listrik di Gaza dapat mengancam terjadinya bencana manusia karena adanya pemblokiran terhadap sektor vital seperti kesehatan, air, sanitasi, dan juga sektor layanan publik.

Diagnoses Causes:

Hal ini disebabkan oleh serangan agresi oleh pemerintah Israel kepada warga Palestina di Gaza dan dilakukan pemblokiran jalur pembangkit listrik di Gaza.

Make Moral Judgement:

Penilaian moral dalam berita ini dijatuhkan kepada Israel. Palestina meminta untuk Israel berhenti merusak pemukiman warga maupun tempat ibadah. Selain itu, presiden Palestina mengatakan bahwa mereka akan bergerak untuk membela rakyat Palestina. Presiden Palestina menekankan bahwa Palestina tidak akan menyerah dan terus berjuang demi melindungi tanah air mereka.

Treatment Recommendation

Oleh karena itu, Israel seharusnya tidak memblokir jalur pembangkit listrik maupun sektor vital lainnya. Pemerintah Israel juga seharusnya tidak melakukan tindakan agresi kepada Palestina yang dapat mengakibatkan kerusakan pemukiman dan juga tempat ibadah.

  • Korban Makin Banyak Jelang Lebaran, 67 Orang Dilaporkan Tewas Dalam Konflik Palestina-Israel

Sumber: https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-011908065/korban-makin-banyak-jelang-lebaran-67-orang-dilaporkan-tewas-dalam-konflik-palestina-israel

Define ProblemsKamis, 13 Mei 2021, jumlah korban yang tewas akibat konflik Israel dan Palestina bertambah menjadi 67 jiwa.
Diagnoses CausesSerangan udara yang dilakukan oleh Israel dan Hamas
Make Moral JudgementPemerintah Israel seharusnya tidak melakukan serangan udara. Hamas seharusnya tidak melakukan serangan roket.
Treatment RecommendationPemerintah Israel dan Hamas berhenti untuk melakukan serangan udara

Define Problems:

Jumlah korban konflik Israel dan Palestina telah bertambah.Sebelumnya, korban jiwa mencapai angka 35, tetapi jumlah kematian hampir naik dua kali lipat saat hari lebaran. Pada hari Kamis, 13 Mei 2021, jumlah korban mencapai 67 jiwa. Korban yang bertambah terdiri dari 17 anak-anak dan 6 orang wanita. Dalam konflik Palestina dan Israel, sebanyak 388 orang telah mengalami luka-luka. Jumlah korban jiwa dari pihak Israel berjumlah 6 orang. 

Diagnoses Causes:

Serangan udara yang dilakukan oleh pemerintah Israel dibalas dengan serangan roket yang berasal dari Hamas. 

Make Moral Judgement:

Berdasarkan penilaian moral yang ada dalam artikel Pikiran Rakyat, kesalahan ini dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu Israel dan Hamas. Dalam artikel ini disebutkan jumlah korban dari kedua belah pihak dan juga penyerangan yang dilakukan oleh pihak Israel maupun Hamas. Walaupun Israel tetap membawa pengaruh besar karena Israel yang memulai serangan diikuti dengan Hamas untuk membalas serangan tersebut.

Treatment Recommendation:

Oleh karena itu pemerintah Israel maupun Hamas seharusnya tidak melakukan tindakan penyerangan. Adanya konflik ini meningkatkan jumlah korban terutama anak-anak. 

  • Hasil analisis berita Pikiran Rakyat dengan judul Mencekam, Serangan Udara Israel Hancurkan Kantor Berita Internasional di Gaza Palestina

Penyebab masalah dalam berita ini menggambarkan bahwa Israel melakukan serangan ke kantor The Associated Press di Jalur Gaza. Pada beberapa bagian berita, Pikiran Rakyat membingkai Israel sebagai pihak yang buruk dengan data-data yang mengajak pembaca memberikan empatinya (nilai berita human interest), sehingga Israel dianggap sebagai pihak yang melakukan kejahatan. Namun, pada bagian lainnya dalam berita ini, Pikiran Rakyat tetap memberikan data jumlah korban jiwa pada dua kubu.

“Sebelumnya, serangan udara Israel di kamp pengungsi padat penduduk di Kota Gaza menewaskan sedikitnya 10 warga Palestina yang sebagian besar anak-anak, pada Sabtu pagi.”

“Di Gaza, sedikitnya 139 orang telah tewas, termasuk 39 anak-anak dan 22 wanita. Di pihak Israel, tujuh orang tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dan seorang tentara.***”

Penilaian moral dalam berita ini lebih mengarah kepada Israel yang menyerang kantor The Associated Press di halaman awal berita. Namun, di akhir berita dipaparkan bahwa kedua belah pihak sama-sama melakukan serangan balasan ke pihak lainnya. Dalam berita ini, tak dijelaskan oleh Pikiran Rakyat perihal saran penyelesaian konflik ini.

Define ProblemsPenyerangan kantor berita Internasional di Gaza oleh Israel
Diagnoses CausesIsrael
Make Moral JudgementSejak awal berita, titik berat penilaian moral dijatuhkan kepada Israel. Namun, hingga akhir berita dijelaskan bahwa kedua pihak memiliki peran dalam konflik ini
Treatment RecomendationNihil
  • Hasil analisis berita Pikiran Rakyat dengan judul 10 Orang Termasuk 8 Anak Tewas Usai Serangan Udara Israel di Kamp Pengungsian Gaza

Judul berita ini sudah menjelaskan siapa yang menjadi biang masalah yang terbingkai dalam berita ini. Dalam berita tersebut, Israel menjadi penyebab terjadinya konflik ini karena Israel melancarkan agresi serangan udara ke Kamp Pengungsian Gaza.

Israel hingga saat ini terus melakukan agresi serangan udara, bahkan kabar terbaru menyatakan bahwa setidaknya 10 anggota keluarga Palestina tewas usai serangan tersebut.”

Sedari awal, titik berat penilaian moral dijatuhkan kepada Israel yang dalam berita tersebut disajikan data bahwa agresis serangan udara tersebut memakan korban anak-anak dan dua wanita. Selain itu, beberapa kalimat dan wawancara dalam berita ini juga mengajak masyarakat untuk lebih empati terhadap korban penyerangan ini. Banyak wawancara yang disajikan lebih melankoli dari yang lainnya.

“Itu mengenai kepala kami. Kami terluka. Kami mulai berlari tanpa alas kaki dan saudara perempuan saya meninggalkan semua barang milik kami,” katanya.

“Alhamdulillah saya masih punya Omar,” kata Al-Hadidi.

Sedikitnya 15 orang juga terluka dalam serangan udara itu. Mohammed al-Hadidi memberi tahu Al Jazeera bahwa istri dan empat putranya Suheib berusia 14 tahun, Yahya 11 tahun, Abdelrahman 8 tahun, dan Wisam 6 tahun semuanya tewas.

Dalam kejadian itu, sebelumnya mereka mengunjungi saudara laki-laki istrinya untuk merayakan Idul Fitri saat aksi mogok kerja terjadi.

Tidak ada jalan keluar yang disajikan oleh Pikiran Rakyat, namun wawancara dengan juru bicara UNRWA yang mengatakan bahwa penyerangan Israel ke kamp pengungsian ini adalah karena adanya disinformasi, dimana Israel tidak menargetkan warga sipil, namun, Israel menargetkan pejuang Hamas yang bertempat di kamp pengungsian, sedikit memperjelas suasana ketika itu.

Define ProblemsPenyerangan Israel ke Kamp Pengungsian di Gaza
Diagnoses CausesIsrael
Make Moral JudgementPenilaian moral dijatuhkan kepada Israel yang sedari awal berita dijelaskan tentang penyerangannya terhadap kamp pengungsian di Gaza
Treatment RecommendationNihil
  • Hasil analisis berita Pikiran Rakyat dengan judul AS Bungkam Palestina Terus Diserang, Israel Dapat ‘Restu’ dari Amerika Terus Menggempur?

Dalam berita ini akar masalah terdapat pada ketidakhadiran Amerika Serikat dalam menyuarakan konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, sedangkan beberapa negara seperti Turki dan Rusia kompak menentang Israel.

Titik berat penilaian moral dalam berita ini dijatuhkan kepada Amerika Serikat karena tidak bersuara terhadap konflik Israel dan Palestina. Dalam berita tersebut dijelaskan penyerangan Israel ke Palestina telah menelan ratusan korban terluka hingga meninggal dunia, namun Amerika Serikat belum bersuara terkait hal ini.

Saran penyelesaian dalam berita ini tentunya adalah kehadiran Amerika Serikat dalam menyelesaikan konflik antara Israel dan Palestina, terlihat pada wawancara yang disajikan oleh Pikiran Rakyat mengenai hal ini:

“Nabil Abu Rideineh, juru bicara Presiden Mahmoud Abbas, ia mengatakan bahwa diamnya pemerintah Amerika Serikat mendorong kejahatan perang Israel di Jalur GazaYerusalem, dan Tepi Barat.”

Define ProblemsKetidakhadiran AS dalam menyuarakan konflik Israel dan Palestina
Diagnoses CausesAmerika Serikat
Make Moral JudgementTitik penilaian moral dijatuhkan kepada AS yang tidak bersuara perihal konflik Israel dan Palestina
Treatment RecommendationKehadiran AS dalam menyelesaikan konflik Israel dan Palestina

III. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis kami, terdapat beberapa faktor pemberitaan antara Kompas dan Pikiran Rakyat dalam memberitakan konflik antara Israel dan Palestina. Pertama, yakni cara penyajian berita antara Kompas dan Pikiran Rakyat seperti feature dan hard news.

Kedua, Kompas lebih membingkai Israel sebagai penyebab masalah dalam konflik ini. Begitu pula dengan Pikiran Rakyat yang membingkai Israel sebagai penyebab masalah konflik ini, tak hanya itu, dalam berita Pikiran Rakyat juga dibingkai Amerika Serikat sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab dalam konflik ini.

Ketiga, Kompas lebih memandang konflik ini dengan skala yang lebih luas. Berita-berita dari Kompas lebih kepada peran negara luar terhadap konflik Israel dan Palestina. Sedangkan, Pikiran Rakyat lebih membingkai berita konflik dengan skala kecil, yaitu Israel dan Palestina.

IV. Penutup

Sebagai penutup, tim penulis Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Bima Fikom Unpad berharap, pemberitaan media terkait konflik Israel dan Palestina tetap objektif dan berpegang teguh pada Kode Etika Jurnalistik. Pemberitaan didasarkan pada data dan fakta, tanpa adanya pengaruh keberpihakan. Selain itu, setiap data dan statement dari kedua pihak haruslah divalidasi terlebih dahulu sebelum dipublikasikan. Agar terciptanya ruang publik yang berkualitas.

V. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada pihak yang telah membantu rampungnya tulisan ini. Tentunya, tim penulis berharap evaluasi dan kritik terhadap tulisan ini karena kami sadar bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna.

Tim Penulis : I Putu Gede Rama Paramahamsa, Fauzi Ramadan, Faiza Humaira S, Maharani Arlla Yesifa, Sulthan Ariq Sulaiman Aden.

Daftar Pustaka

Barberá, P., Jost, J. T., Nagler, J., Tucker, J. A., & Bonneau, R. (2015). Tweeting from left to right: Is online political communication more than an echo chamber?. Psychological science, 26(10), 1531-1542.

Debor, Yantina. 2020. “Daftar 6 Vaksin COVID-19 yang Digunakan di Indonesia”. https://tirto.id/daftar-6-vaksin-covid-19-yang-digunakan-di-indonesia-f8fa. Diakses pada 10 Maret 2021.

Fajar dan Setia. 2020. Analisis Sentimen Pro dan Kontra Masyarakat Indonesia tentang Vaksin COVID-19 pada Media Sosial Twitter. Indonesian of Health Information Management Journal, 8(2).

Kelley, H. H., & Michela, J. L. (1980). Attribution theory and research. Annual review of psychology, 31(1), 457-501.

Maharani, A. (2020, December 7). Hati-hati, Efek Echo Chamber Saat Pandemi COVID-19! Retrieved from klikdokter: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3646060/hati-hati-efek-echo-chamber-saat-pandemi-covid-19

Maharani, A. (2021, January 15). Menolak Vaksinasi Corona, Ini Alasan Psikologisnya. Retrieved from klikdokter: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3646967/menolak-vaksinasi-corona-ini-alasan-psikologisnya

Martiarini, N. (2020, December 4). PENASARAN DENGAN ALASAN DI BALIK PERILAKU SESEORANG? YUK INTIP APA ITU ATRIBUSI! Retrieved from PSIKOLOGI UNNES: https://psikologi.unnes.ac.id/2020/12/04/penasaran-dengan-alasan-di-balik-perilaku-seseorang-yuk-intip-apa-itu-atribusi/

Mashabi, Sania. 2021. “UPDATE: Tambah 6.389, Jumlah Kasus Covid-19 di Indonesia 1.392.945 Orang”. https://nasional.kompas.com/read/2021/03/09/17215171/update-tambah-6389-jumlah-kasus-covid-19-di-indonesia-1392945-orang?page=all. Diakses pada 10 Maret 2021.

Nguyen, C. T. (2020). Echo chambers and epistemic bubbles.

Rifasya, F. (2018, December 18). Echo Chamber dan Filter Bubble Penyebab Polarisasi Masyarakat dalam Media Sosial. Retrieved from Medium: https://medium.com/@fawwazrifasya/echo-chamber-dan-filter-bubble-penyebab-polarisasi-masyarakat-dalam-media-sosial-6617178c1c74

Words of Thoughts: Sosok Brian Epstein dan Bubarnya The Beatles

Ilustrasi oleh Ariq Aden

Sudah lebih dari setengah abad sejak single pertama The Beatles yang bertajuk “Love Me Do” di jual di seluruh toko musik Inggris. Hingga sekarang musik The Beatles masih sering didengar oleh kalangan orang tua hingga remaja.

Kesuksesan dari The Beatles menjadi pembangkit roh musik di era modern, banyak band-band terkenal seperti Led Zeppelin, Oasis, Radiohead, dan Coldplay terinspirasi dari band asal inggris tersebut.

Namun banyak orang yang tidak tahu bahwa kesuksesan The Beatles bukan hanya dari empat personel mereka John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr melainkan sosok manajer mereka yaitu Brian Epstein.

Brian Epstein masih bekerja sebagai pengelola piringan hitam di toko musik milik keluarganya di Liverpool saat ia pertama kali melihat The Beatles tampil di sebuah klub bernama Cavern pada November 1961.

Epstein terpukau dengan penampilan The Beatles lalu menjadi manajer mereka pada tahun januari 1962. Epstein sering menawarkan rekaman demo The Beatles ke studio-studio rekaman di seluruh inggris namun sering kali ditolak.

Akhirnya rekaman demo The Beatles diterima oleh salah satu anak perusahaan EMI Records yaitu Parlophone Records.

Kepandaian Epstein dalam memperkenalkan The Beatles hingga mengelola keuangan mereka, membuat band asal inggris tersebut mampu meraih popularitasnya.

Epstein juga bertanggung jawab atas tampilan personel The Beatles yang ikonik yaitu memakai jas dan dasi. Seiring berjalannya waktu, sering kali terjadi konflik antar personil The Beatles, namun hal tersebut dapat terselesaikan karena adanya sosok Brian Epstein yang dapat memediasi mereka. Epstein sering kali dijuluki “the fifth beatles” karena kontribusinya yang sangat besar pada The Beatles.

Kematian Brian Epstein dan bubarnya The Beatles

Brian Epstein meninggal pada 27 Agustus 1967 karena terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan penenang. Kematiannya membuahi kekosongan pada The Beatles terutama pada John Lennon karena keduanya diketahui memiliki hubungan yang dekat. Setelah kematiannya, The Beatles mulai goyah.

Permasalahan pertama terjadi saat Paul McCartney mencoba untuk mengambil alih kendali, Paul menggagaskan beberapa proyek untuk keberlangsungan band ini seperti penggarapan film “Magical Mystery Tour” dan “Let It Be”.

Dominasi yang dimiliki Paul membuat ketiga personel lainnya risih. Lennon tidak setuju dengan beberapa proyek milik Paul, hal tersebut dibuktikan saat Lennon melanggar aturan awal The Beatles yaitu membawa Yoko Ono saat proses rekaman lagu, padahal aturan tersebut sudah dibuat sejak awal yaitu dilarang membawa pacar atau istri saat proses rekaman.

Hadirnya Yoko membuat personel lainnya risih, di mana Yoko selalu ada di sebelah Lennon, ditambah Yoko juga sering memberikan komentar dan memberikan masukan atas lagu yang sedang dibuat.

Permasalahan tidak hanya sampai situ, munculnya George Harrison sebagai penulis lagu The Beatles juga menyebabkan ketidaknyamanan beberapa personel. Walaupun lagu yang diciptakan George dapat dibilang sukses, namun hal tersebut membuat risih karena yang bertugas untuk menulis lagu adalah Lennon dan Paul, sedangkan George dan Ringo menjadi pendukung.

Meski beberapa pihak mengagumi dan mengakui lagu-lagu George, namun ide-ide George sering kali ditolak oleh Lennon dan Paul, hal tersebut menyebabkan George frustasi dan merasa terasingkan di band ini.

Namun ide-ide George tidak terbengkalai, George bekerja sama dengan pianis klasik John Barham dan musisi klasik india seperti Aashish Khan, Shivkumar Sharma, Shankar Ghosh, dan Mahapurush Mirsa untuk membuat album “Wonderwall Music” yang nantinya menjadi soundtrack film “Wonderwall”. George menjadi personel The Beatles pertama yang mengeluarkan album solo.

Setelah merilis album “Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band” pada November 1966, perbedaan selera musik antar personel mulai terlihat. Paul yang mempertahankan minatnya pada musik pop, George pada aliran musik indinya, sementara Lennon beralih pada musik eksperimental.

Hal tersebut membuahkan kesulitan untuk kolaborasi antar personel karena ego masing-masing yang sangat besar. Akhirnya Paul kembali menjadi inisiator dalam proyek artistik The Beatles, yang mana membuat keadaan bukannya membaik malah menambahkan perdebatan yang pada akhirnya merusak kesatuan band.

Lennon dan Paul seringkali berdebat, pada satu kesempatan Lennon sempat menghina lagu yang diciptakan oleh Paul yang bertajuk “Martha My Dear” dan “Honey Pie”. Sebaliknya, Paul juga mencela lagu-lagu eksperimental Lennon.

Karena terlalu banyak permasalahan, akhirnya band asal Inggris ini pun bubar pada tahun 1970. Bahkan pembubaran band tersebut menuai konflik lainnya, yaitu Paul mendahului Lennon dalam menyatakan bubarnya band.

Lennon bersama dengan Ringo dan George melawan Paul di pengadilan dalam proses pembubaran band ini. perseteruan antar Lennon dan Paul terus berlanjut setelah bubarnya The Beatles. (AA)

Oleh Ariq Aden

Rilis Diskusi Publik #1: Komunikasi Krisis Pemerintah dalam Menyambut Hingga Melahirkan Vaksin Corona

Satu tahun lebih pandemi virus COVID-19 menjangkit Indonesia. Virus yang mulanya berasal dari Wuhan, China, ini kini telah merebak dan memakan banyak korban tak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh negara di dunia. Berbagai kebijakan dan statement pun kemudian dibuat untuk menekan laju pertumbuhan COVID-19, namun sayangnya kebijakan yang hadir nampaknya tidak bisa menekan pertumbuhan angka tersebut secara signifikan, dan bahkan terdapat beberapa masyarakat yang perlahan mulai abai serta tidak mempercayai pandemi COVID-19 ini.

Melihat kekhawatiran tersebut, Departemen Kajian dan Aksi Strategi BEM Bima Fikom Unpad Kabinet Jagatkarya kemudian mengadakan sebuah diskusi publik pada Jum’at, 23 April 2021. Diskusi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi krisis yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam menyambut COVID-19, serta aspek-aspek apa saja yang telah tumbuh di masyarakat dan variable yang mempengaruhinya.

Diskusi tersebut dilakukan secara daring melalui platform Zoom Meeting serta menghadirkan narasumber-narasumber hebat, yaitu Justito Adiprasetion, S.I.KOM, MA. Dan Dr. Herlina Agustin, S.Sos, M.T. Diskusi dimoderasi oleh Meyta Yosta Greacelya Abaulu selaku Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis Bem Fikom Unpad.

Diskusi dimulai pada pukul 13.30, diawali dengan pemaparan dari narasumber pertama, yaitu Justito Adiprasetion, S.I.KOM, MA yang membawa materi mengenai berbagai blunder komunikasi publik yang telah dilakukan pemerintah semenjak pre-crisis virus COVID-19 hingga saat ini. Justito melabeli materinya dengan istilah “Absennya Paranoia – COVID-19 Indonesia”. Beliau kemudian menyebutkan bahwa banyak masyarakat yang belum aware terhadap Virus ini pada tahapan awal, hal ini makin diperparah dengan respon dan statement dari pemerintah yang kerap kali membuat klaim yang tidak berlandaskan science. Salah satu pernyataan pemerintah yang cukup unik pada saat itu berasal dari Menteri Kesehatan, yang menyatakan bahwa Indonesia mampu untuk bebas dari virus Corona dikarenakan doa. Selain itu, klaim tidak berlandaskan bukti ilmiah pun sempat dilakukan oleh Ahmad Yurianto selaku juru bicara COVID-19, yang menyebutkan bahwa virus COVID-19 perlahan akan menjinak. Tentu sebuah statement yang telah dirilis ke publik akan sangat sulit untuk ditarik kembali, sekali pun telah ada klarifikasi. Hal ini lah yang kemudian menjadi salah satu variable penyebab masyarakat terpolarisasi ke dalam dua kubu, pro dan kontra.

Justito menyebutkan bahwa klaim, justifikasi, statement pemerintah bersifat pseudosains dan terlalu bertujuan untuk menenangkan masyarakat, pemerintah tidak memposisikan masyarakat sebagai mitra dan memberikan keterbukaan serta transparansi yang baik, yang mana hal ini kemudian membentuk framing tertentu di dalam masyarakat. Komunikasi publik di level kenegaraan seharusnya bersumber dari literatur yang scientific, bukan hanya berbasis dari narasi yang motivasional.

Selanjutnya, Justito menyampaikan banyaknya komunikasi publik yang saling tumpang tindih antara narasi pusat dengan daerah pun merupakan bukti nyata kurangnya kemampuan pemerintah dalam menghadapi krisis ini. Selain itu, sikap pemerintah yang me-maintenance publik dan menyebutkan bahwa Indonesia akan pulih dari pandemi ketika posisi pandemi yang sedang memuncak, menjadikan banyak masyarakat yang kemudian mulai abai terhadap COVID-19. Berbagai blunder ini kemudian memberikan kita pandangan baru, bahwa pemerintah sebenernya belum memiliki jalur birokrasi yang adaptif dalam menangani krisis. Pada bagian akhir, Justito menyatakan bahwa dalam krisis COVID-19 ini, pemerintah seharusnya memperbanyak narasi yang berorientasi kepada aspek human interest, namun faktanya narasi yang bertebaran masih didominasi oleh aspek ekonomi, kapital dan attribution of responsibilities

Setelah selesai materi disampaikan olehJustito Adiprasetion, S.I.KOM, MA, diskusi pun dilanjutkan oleh materi yang dipaparkan oleh Dr. Herlina Agustin, S.Sos, M.T atau kerap disapa dengan sebutan Bu Titin. Materi diawali dengan cerita Bu Titin mengenai pengalaman setelah dirinya menjadi relawan vaksin Sinovac. Beliau menyatakan bahwa terdapat banyak pihak yang mendukung ketika dirinya memutuskan untuk menjadi relawan vaksin, namun sayangnya terdapat banyak pula individu yang menentang hal tersebut. Beliau sempat mendapat pesan Whatsapp yang berkonotasi negatif, “Apakah tidak takut mati setelah ikut menjadi relawan? Nanti yang rugi siapa kalau mati?” Namun beliau menanggapi hal tersebut dengan santai, Bu titin percaya bahwa ketika dirinya divaksin tidak ada pihak yang merugi, melainkan dirinya akan mempermudah lingkungan sekitarnya.

Selanjutnya beliau menyinggung mengenai berita hoaks yang banyak tersebar pada masa pandemi ini. Bu Titin menyayangkan banyak pihak yang lebih percaya kepada hal-hal berbau konspirasi dibandingkan mempercayai penelitian-penelitian ilmiah yang sudah terbukti kebenarannya. Hal ini pula yang kemudian menyebabkan lahirnya kaum anti-covid yang tentunya juga sejalan dengan golongan anti-vaksin.

Pada momen akhir, beliau kemudian memberikan pernyataan yang begitu bijak. Sebagai penggerak lingkungan, Bu Titin memberi pesan pada kita semua bahwa pandemi COVID-19 ini merupakan bukti dari manusia yang tidak merawat alamnya dengan baik, virus COVID-19 muncul karena virus tersebut telah kehilangan habitatnya, sehingga mencari inang yang baru, yaitu manusia. Intinya semua hal akan kembali ke lingkungan, karena tidak akan ada manusia sehat di lingkungan yang buruk. Semua ini berkaitan dengan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Pemerintah terlihat hanya fokus kepada ekonomi atau materi saja, padahal menjaga lingkungan pun tidak kalah pentingnya.

Intisari Diskusi Publik:

  • Berbagai blunder dari komunikasi publik yang telah dilakukan oleh pemerintah bersifat akumulatif dan snowball. Akibatnya masyarakat pun terpolarisasi menjadi dua bagian, pro dan kontra.
  • Klaim/statement/justifikasi dari pemerintah yang bersifat pseudosains menjadikan masyarakat memiliki keamanan semu. Akibatnya awareness masyarakat terhadap COVID-19 menjadi rendah.
  • Tumpang tindihnya narasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi bukti dari ketidaksiapan birokrasi pemerintah dalam menangani sebuah krisis.
  • Pemerintah seharusnya menjadikan masyarakatnya sebagai mitra yang dapat bersifat terbuka dan transparan terhadap setiap informasi yang ada, bukan hanya memberikan statement motivasional dan keamanan semu.
  • Berbagai hoax dan konspirasi yang bertebaran menjadikan munculnya masyarakat yang anti-covid dan anti-vaksin.
  • Virus COVID-19 merupakan bukti nyata dari alam yang tidak terjaga dengan baik, oleh karena itu lingkungan merupakan aspek penting yang harus kita jaga kelestariannya, karena tidak akan ada manusia sehat di lingkungan yang buruk.

Departemen Kajian dan Aksi Strategis, BEM Fikom Unpad 2021

Words of Thoughts: Social Isolation: Mengingat Satu Tahun Pengasingan Diri

Tidak terasa sudah lebih dari satu tahun kita menghadapi pandemi yang menyebabkan kita harus mengisolasikan diri di tempat tinggal kita masing-masing. Tidak dapat beraktivitas seperti biasa terkadang membuat kita lebih mudah cemas, tidak dapat berpikir dengan jernih, dan berbagai dampak lainnya. Namun mengisolasi diri menjadi satu-satunya opsi untuk manusia untuk bertahan hidup khususnya di situasi ini.

Di tengah situasi yang sedang kita hadapi sampai sekarang yaitu social distancing, atau PSBB, atau istilah lainnya yang diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia kepada kita, kalian pasti pernah mendengar istilah isolasi yang digunakan sebagai kosa kata yang bermakna untuk mengurung diri dan mengurangi kontak serta tidak berinteraksi untuk sementara dengan orang lain.

Tetapi jauh sebelum kita menghadapi situasi ini, sudah banyak orang yang mempraktikkan isolasi ini namun dalam sebuah konteks yang berbeda dengan situasi ini. Banyak orang yang mempraktikkan hal ini karena berbagai macam alasan yang beragam seperti disebabkan karena kekerasan yang pernah mereka alami sehingga menyebabkan trauma, krisis dalam lingkungan sosial terdekat seperti keluarga, kehilangan orang terdekat, ataupun kecanggungan sosial yang dirasakan saat berinteraksi dengan orang lain.

Hal ini dikenal sebagai social isolation, peristiwa ini dapat terjadi pada segala jangka umur, dari muda hingga tua tentu dengan gejala yang berbeda dari tiap pengelompokan umur tersebut. Masa remaja merupakan kelompok umur yang paling rentan terkena kondisi ini dimana remaja lebih sensitif terhadap kehidupan sosial serta berbagai tuntutan yang ada di dalam masyarakat. 

Namun hal ini tak menutup kemungkinan orang yang lebih tua tidak terkena kondisi ini, seperti pada beberapa kasus yang terjadi pada orang tua di beberapa negara, hal ini disebabkan oleh perceraian dengan pasangan, tidak memiliki kerabat dekat yang merawat, trauma yang disebabkan berbagai hal yang terjadi di masyarakat dan berbagai hal lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian dari John T. Cacioppo dan Louise Hawkley, social Isolation dapat berdampak kepada berbagai aspek dalam kehidupan orang yang melakukan tindakan isolasi ini, seperti penurunan kemampuan kognisi secara drastis, meningkatnya kognisi yang negatif dan bersifat depresif, meningkatnya kepekaan terhadap ancaman sosial, dan munculnya bias konfirmasi untuk perlindungan diri dalam bentuk kognisi sosial.

Secara umum, social isolation dapat menyebabkan seseorang merasakan kesepian, rasa takut terhadap orang lain, dan juga merasa dirinya tidak berharga. 

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki sebuah istilah khusus untuk orang yang melakukan praktik ini dengan sebutan hikikomori, dimana orang yang melaksanakan praktik (pada umumnya remaja dan orang dewasa) ini menarik diri dari masyarakat dan mengisolasi diri dalam tingkat yang tinggi.

Dalam berbagai kasus, isolasi yang dilakukan kadang memiliki resiko yang tinggi seperti dampak yang sebelumnya sudah disampaikan, yaitu menurunnya kemampuan kognisi. Terkadang seseorang akan kesulitan melakukan interaksi dengan orang lain seperti semula. 

Saya sendiri sebagai penulis pernah bertemu dengan beberapa orang yang melaksanakan praktik ini, mereka cenderung berkata bahwa mereka merasakan tekanan saat berinteraksi dengan orang lain, seperti rasa yang mencekam dan tidak nyaman saat kembali bergabung dengan masyarakat.

Jelas membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan kondisi ini, karena orang yang melaksanakan praktik ini kehilangan rasa kepercayaan diri dan kemampuan kognisi sosial dalam porsi yang sangat besar bahkan dapat bersifat permanen. 

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memulihkan kondisi ini, salah satunya adalah menghubungi profesional yang mampu membantu mengatasi hal ini seperti psikolog dan psikiater dalam upaya terapi, namun hal ini tidak bersifat instan seperti yang banyak orang pikirkan. Terapi membutuhkan waktu yang lama untuk memiliki efek dan membantu pulih, tentu dorongan dalam diri juga merupakan hal yang penting untuk membantu pulih dari kondisi ini.

Namun bukan berarti orang terdekat tidak dapat membantu orang yang terkena dampak dari social isolation untuk pulih dari kondisi ini, orang terdekat dapat membantu dengan memberikan dukungan sosial yang dibagi menjadi 4 jenis yakni sebagai berikut; Pertama, menjadi appraisal support, yang berfungsi untuk membantu seseorang memecahkan masalah sosial yang dihadapi dengan contoh konkritnya seperti menjadi tempat keluh kesah dari orang yang mengalami kondisi ini.

Kedua, menjadi tangible support yang menjadi bantuan dalam menyelesaikan permasalahan orang yang terkena kondisi tersebut dengan memberikan bantuan berbentuk barang atau lainnya. Ketiga adalah self esteem support, yaitu dukungan yang bertujuan untuk meningkatkan rasa harga diri dan dapat menerima diri sendiri kembali seperti semula. Dan yang terakhir adalah belonging support yang merupakan dukungan untuk memberikan seseorang rasa nyaman dan keterlibatan dalam suatu kelompok yang dapat membantu orang tersebut kembali dapat berinteraksi seperti semula.

Sehingga kita dapat mendapatkan kesimpulan, bahwa sebagai manusia kita tidak dapat hidup sendiri karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Mungkin dalam situasi yang kita hadapi, isolasi adalah sesuatu hal yang necessary, namun jangan sampai lupa untuk berinteraksi dengan orang terdekat kita. Utamanya, untuk mengenang satu tahun kita harus menjaga jarak, mengasingkan diri, dan menatap muka melalui layar pemancar radiasi, kita harus mensyukuri betapa berharganya momen sebelum pengasingan massal ini.

“Why do people have to be this lonely? What’s the point of it all? Millions of people in this world, all of them yearning, looking to others to satisfy them, yet isolating themselves. Why? Was the earth put here just to nourish human loneliness?”

-Haruki Murakami-

Oleh: Yohanes Stephen, Ilmu Komunikasi 2018

[KAJIAN] INDONESIA BUKAN HANYA JAKARTA!

“Sebuah Kajian Televisi Mengenai Dominasi Pemberitaan Wilayah Jabodetabek”

 oleh Faiz Alfarizky Tofani – TVF 2018

Sampai saat ini, televisi merupakan media massa terpopuler dalam menyajikan berita mengenai suatu kelas peristiwa di suatu wilayah tanah air. Tak heran jika jumlah khalayak yang menyaksikan siaran televisi di Indonesia sangat besar karena pemberitaan yang up to date mengenai peristiwa di suatu daerah tersebut. Namun. Berdasarkan ruang lingkup dan wilayahnya, media nasional, khususnya televisi masih memiliki dominasi pada wilayah tertentu dan kelas tertentu ketimbang isi beritanya. Selain itu, televisi masih fokus pada pemberitaan yang didominasi oleh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau disebut Jabodetabek.

Adalah Sebuah kawasan Metropolitan Jakarta Raya yang terdiri dari beberapa kota besar penyangga Ibukota Jakarta. Sayangnya, persentase frekuensi dominasi pemberitaan wilayah Jabodetabek di media televisi nasional sebesar 41% berdasarkan Daerah Asal Berita (DAB). Padahal, wilayah Indonesia tidak hanya Jabodetabek saja!

Rupanya, dominasi pemberitaan wilayah Jabodetabek sudah terjadi sejak era orde baru di mana pemerintah memonopoli siaran Televisi Republik Indonesia (TVRI) untuk menyiarkan berita tentang kondisi stabilitas dan pembangunan nasional. Pemberitaan TVRI pada masa itu selalu menayangkan kinerja pemerintah yang berpusat di Jakarta. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga era reformasi tahun 1998 dan kemudian berlanjut hingga saat ini. Kajian kritis ini saya lakukan melalui observasi pada tayangan berita di Metro TV dan NET TV dengan fokus program berita Selamat Pagi Indonesia di Metro TV dan program berita Selamat Siang Indonesia di NET TV. Unit analisis yang dikaji sebanyak 97 tayangan berita dari Metro TV dan NET TV.

Pemberitaan wilayah Jabodetabek masih mendominasi televisi nasional yang disiarkan ke seluruh wilayah Indonesia. Sebagian besar berita yang ditayangkan mengangkat isu mengenai permasalahan-permasalahan yang terjadi di Jakarta, seperti kemacetan, kriminalitas, dan kesenjangan sosial yang sejak awal era reformasi belum ada solusinya. Alhasil, stasiun televisi yang siarannya berpusat dari dan/atau di Jakarta selalu menayangkan permasalahan-permasalahan di ibukota tanpa adanya perhatian langsung dari pemerintah pusat maupun daerah sebagai pemangku kepentingan. Sedangkan, wilayah non-Jabodetabek hanya sebanyak penikmat berita saja!

Hasil kajian mengatakan bahwa pemberitaan wilayah Jabodetabek masih mendominasi pemberitaan televisi nasional, yaitu sebanyak 28 berita seputar Jakarta dari total 37 berita seputar Jabodetabek. Jika kita menghitung dari variabel Daerah Asal Berita (DAB) dalam satu frekuensi pemberitaan di televisi nasional selama 5 hari, DAB untuk wilayah Jakarta saja, sudah sebesar 75,67% dari keseluruhan berita wilayah Jabodetabek. Disamping itu, jika kita lihat DAB Jabodetabek terhadap pemberitaan nasional, maka kita mendapatkan persentase sebesar 38% dari keseluruhan frekuensi pemberitaan nasional. 

Sedangkan, Daerah Asal Berita (DAB) untuk beberapa wilayah pemberitaan di 2 televisi nasional yang dikaji, dapat dicermati dalam tabel berikut ini:

Tabel Jumlah DAB berita di 2 televisi nasional Indonesia:

Stasiun TVDABJumlah BeritaPresentase
Metro TVJabodetabek2741, 53 %
Metro TVSulawesi Selatan11, 53 %
Metro TVSumatera Utara23, 07 %
Metro TVSumatera Barat11, 53 %
Metro TVLampung23, 07 %
Metro TVJawa Barat69, 23 %
Metro TVJawa Tengah & DIY46, 15 %
Metro TVJawa Timur11, 53 %
Metro TVBali11, 53 %
Metro TVNasional1726, 15 %
Metro TVInternasional34, 61 %
 TOTAL65100 %
NET TVJabodetabek928, 12 %
NET TVSumatera Barat26, 25 %
NET TVSulawesi Selatan26, 25 %
NET TVSulawesi Tengah13, 12 %
NET TVSulawesi Tenggara13, 12 %
NET TVJawa Barat515, 62 %
NET TVJawa Tengah & DIY515, 62 %
NET TVJawa Timur26, 25 %
NET TVNasional26, 25 %
NET TVInternasional39, 37 %
 TOTAL32100 %

Berdasarkan DAB di atas, terlihat dengan jelas dominasi pemberitaan wilayah Jabodetabek pada 2 televisi nasional, yaitu Metro TV dan NET TV.

Sumber: Melipat Indonesia dalam Berita Televisi (2014)

Persentase   pemberitaan wilayah Jabodetabek pada 2 televisi nasional di atas jelas menunjukkan angka yang sangat dominan, yakni di atas DAB nasional. Sedangkan, DAB non – Jabodetabek yang meliputi Jawa Barat (non – Jabodetabek), Jawa Tengah & DIY, Jawa Timur, Sumatera, Sulawesi, maupun Bali yang persentasenya tidak sampai di atas  DAB  nasional.  Hal ini membuktikan   bahwa dominasi pemberitaan Jabodetabek di televisi nasional Indonesia masih berlanjut hingga saat ini. Walaupun demikian, peneliti mendapatkan data dalam isi pemberitaan di NET TV bahwa stasiun televisi yang baru mengudara selama 7 tahun ini sudah memberikan keberimbangan (balance) dalam upaya menyiarkan program pemberitaan nasional. Hal ini terbukti dari hasil kajian ini bahwa, NET TV berhasil menghasilkan berita untuk beberapa daerah di Sulawesi. Dengan demikian, NET TV sudah berkontribusi untuk keberimbangan (balance) berita dalam siaran televisi nasional.

Berdasarkan kajian ini, dapat disimpulkan bahwa dominasi pemberitaan untuk wilayah Jabodetabek dalam program berita di televisi nasional Indonesia masih terus terjadi. Di sisi lain, hasil kajian yang sama dengan judul “Melipat Indonesia dalam Berita Televisi” karya Mohamad Heychael dan Pak Kunto Adi Wibowo pada tahun 2014 masih akurat untuk menyimpulkan fenomena pemberitaan televisi saat ini. Dimana, 41% pemberitaan televisi nasional masih dalam DAB wilayah Jabodetabek. Presentase ini bahkan mengalahkan persentase DAB pemberitaan nasional yang hanya sebesar 26% di program berita Selamat Pagi Indonesia Metro TV. Namun, berbeda halnya dengan pemberitaan wilayah Jabodetabek di program berita Selamat Siang Indonesia di NET TV yang persentase DAB wilayah Jabodetabek hanya sebesar 28% saja. Sebab, pemberitaan di program berita NET TV tidak sebanyak di Metro TV.

DAFTAR PUSTAKA

Ilham Gemiharto, A. A. (2017 ). Kajian Kritis Tayangan Televisi Favorit Kelas Menengah Perkotaan.

Muhamad Heychael, K. A. (2014 ). Melipat Indonesia dalam Berita Televisi: Kritik atas Sentralisasi Penyiaran.

Words of Thoughts: Bangsa Terbelah

Pada masa konsensual the founding father, harapannya kemerdekaan Indonesia dapat meningkatkan martabat bangsa dan negara setelah dijajah bertahun-tahun dan menjadi pecundang di tanah airnya sendiri. Impian besar terajut menjadi mata air bagi akal dan jiwa untuk tak mati di tengah hampa, gelisah, dan pengasingan dalam bilik-bilik kematian yang mengincar.

Bapak Bangsa. Menyatukan tiap akal pribadi satu sama lain dan menjadikannya sebuah bangsa mandiri pada pertengahan abad dua puluh lalu. Menjadi sahabat, atau berubah menyerang satu sama lain ketika akal budi dinilai tak sesuai dengan janji yang terajut tempo hari itu.

Idealisme pribadi yang bertujuan satu Indonesia, akhirnya memaksa mereka mencari jalan masing-masing demi Indonesia yang mandiri. Kadang menepis gengsi di tengah polemik demi keutuhan negara yang masih hijau muda kala itu. Sutan Sjahrir pernah menjadi seorang oposan, koalisi, hingga sekarat di negara jauh berstatus tahanan negerinya sendiri. Beliau hanya satu dari sekian banyak kasus. ( Tempo, 2010)

Maupun Hatta, yang menjadi sahabat sang presiden, dua jiwa menjelma tunggal dan lambang dari tegaknya kemerdekaan Indonesia. Memisahkan diri sebagai bentuk kritik keras terhadap rekannya yang paling dikenal sebagai proklamator kemerdekaan namun menjelma menjadi sosok yang diktator. (Tempo, 2015)

Keduanya hanyalah contoh kecil pecahnya ruang nahkoda akibat perbedaan idealisme dan penilaian kemana negara ini akan terbawa. Perspektif masing-masing, rasa kengerian yang tak sama membuat jalinan jemari yang semula saling mengeratkan berubah cerai berlainan arah.

Pancasila. Satu kata beranakan makna tentang sebuah bangsa. Dicap ideologi, namun pengertian ideologi itu sendiri masih abu untuk para pemangku kebijakan pahami. Sebagai budaya bangsa, nyatakah setiap nilainya ditanamkan dan berbuah utuh?

Ketuhanan yang Maha Esa. Menjadi landasan pertama bagi empat sila berikutnya. Mengagungkan Tuhan sebagai bukti bahwa matipun mereka tak ragu demi tanah air yang Dia restukan mereka ada di dalamnya. Gema kebesaran Yang Esa kerap dikumandangkan sebagai bagian dari daya, bahwa tiada sesuatu menakuti bangsa kecuali Sang Pencipta.

Beberapa waktu lalu, Menteri Agama dengan mudahnya membuat pernyataan terkait kehadiran radikalisme di kalangan ASN bermula dari anak Hafidz (penghafal) Al-Qur’an yang bertampang good looking (Widiyani, 2020). Pernyataan tak berdasar yang menyakiti para penghafal Qur’an dan mendermakan hidupnya untuk mengkaji ayat-ayat suci.

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Mengikuti rangkaian pertama bahwa akal budi harus diiringi akhlak mulia. Mencerminkan budaya sopan santun, berakhlak mulia. Nilai moral yang harus dimiliki seluruh rakyat Indonesia.

Publik tidak bisa menolak kenyataan negeri ini tengah dilanda krisis moral dan kepercayaan. Baik terhadap pemerintah hingga aparat keamanan. Jurnalistik yang berperan sebagai jalan tengah di antara keduanya dibungkam secara kasar dan mengerikan. Penganiayaan oleh lembaga pelindung dan pengayom, menjelma menjadi tolak ukur ada ketidakberesan dari hukum itu sendiri. (CNN Indonesia, 2020)

Persatuan Indonesia. Tanah yang kaya. Kepulauan yang membentang dari hamparan lebih dari tujuh belas ribu pulau di dalamnya. Menjadi tempat berlari dan bermuara setiap insan yang hidup di atasnya. Satu Indonesia. Membuat yang jauh menjadi dekat, dan merekatkan yang berdampingan.

Peneliti Independen sekaligus pemerhati Papua, Ridwan Al-Makassary, secara jelas menyetujui tak mudah menyelesaikan konflik di Papua. Kekerasan yang membawa korban jiwa baik itu dari pihak TNI maupun warga setempat selayaknya diakui, bahwa 75 tahun Indonesia bersorak merdeka, masih ada keraguan bahkan semangat memisahkan diri dari saudara Timur.  Hal yang patut dipertanyakan masyarakat yang mengaku bahwa Indonesia adalah satu kesatuan, sudah sejauh mana pemerintah memedulikan mereka yang ada di tepian. (CNN Indonesia, 2020)

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Janji demokrasi. Segala sesuatunya dimusyarahkan sebagai bagian emansipasi kehidupan masyarakat yang pernah dibungkam di bawah kuasa kolonial. Menyatukan suara yang sama dan meyakini yang berbeda berhak mengkritisi bilamana tak sesuai janji. Berdiskusi sehat mengkritisi secara tepat.

Pembungkaman suara di sidang paripurna terhadap faksi Demokrat yang secara jelas terlihat dilakukan oleh pemimpin parlementer di Indonesia, hanyalah satu dari sekian banyak bukti bahwa kebebasan menyatakan pendapat tak murni adanya.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Utuhnya kerakyatan dipayungi keadilan yang langit membumi. Tidak adanya perbedaan antara pengusaha dan rakyat biasa. Namun nyatanya, keadilan seolah jadi barang mahal bagi mereka yang mengais rezeki hari demi hari. Kemudahan bagi mereka yang mengkapitalisasi segala sisi kehidupan negeri ini.

Konsensus kebangsaan tak hanya terjadi masa Pancasila. Menarik kembali sorak Sumpah Pemuda 1928 yang memulai semangat kemerdekaan satu bangsa satu tanah air. Keduanya disatukan oleh perwakilan yang mewakili kelompok masing-masing secara beragam. Saling mengkritik dan memberi pendapat dan secara lapang menerima perbedaan dengan jalan tengah yang cukup baik.

Namun mengamati lewat kacamata, hingga teropong yang nun jauh disana. Agaknya hal itu baru bersambut sebagai sebuah impian. Idealitas yang diinginkan namun tak berwujud secara realita.

Mengutip dari “Demokrasi Kita” yang ditulis langsung Mohammad Hatta. Secara lugas pernah mengkritisi keras sikap sang sahabat yang akhirnya terpenggal menjadi Dwi Tanggal. Bahwa kemudian, demokrasi berubah menjadi hal yang sentimentil bagi pemerintah. Seolah mandat kekuasaan membuat demokrasi dilucuti dan paham kebebasan ditabrak habis. Bebas bagi penguasa, cengkram berbahaya bagi rakyatnya. (Hatta, 1960)

Tak berbekas, masyarakat awam hanya bisa pasrah pada keadaan. Negarawan yang berani mengomentari kebijakan pemerintah diputar balik menjadi tersangka, disebut penghina kejam pada pimpinan negara dan antek-anteknya.

Koalisi dan oposisi tak lagi jelas warnanya. Ia yang menghujat bisa berubah sahabat. Ia yang menuntut merasa dicurangi dalam kelicikan, kini berpindah haluan memberi dukungan. Ketika rakyat saling memaki dan membela para pionir harapan. Nyatanya mereka saling bercanda dan berlagak baik satu sama lain. Membuat senapan para pendukung berbelok moncongnya ke arah mereka sendiri.

Mirisnya sistem perpolitikan demi kepentingan pribadi dan golongannya sendiri memalingkan para petinggi dari wajah masyarakat yang terkapar sekarat di pojok-pojok gang-gang sempit. Membutakan mata yang kelaparan menjadi penjahat bagi tetangganya sendiri. Membakar nilai-nilai kemanusiaan demi hawa nafsu yang tak tersalurkan akibat tatanan hidup berat yang memuakan.

Mereka mengira miskinnya hidup adalah salah mereka sendiri. Walaupun berperan, namun nyatanya ada pengemudi haluan yang membawa kapal berlayar.

Para pemimpin mengira bahwa keadilan hanya perihal perut kenyang. Padahal lebih dari itu, akal budi dan adab adalah tiang dari peradaban kokoh sebuah bangsa.

Bagaimana mungkin rakyat dapat terpenuhi haknya sebagai manusia mulia dan cerdas. Ketika pendidikan justru berubah menjadi komoditas mahal.

Budaya bangsa yang Pancasila. Budaya murni Indonesia yang kini seolah disia-sia. Istana dan Senayan yang bertindak celaka. Menumbuhkan rakyat yang tak lagi peduli pada bangsanya.

Runtuh. Nurani sang manusia yang mati telah membuat dunia menjadi gelap dan penuh kebisingan tiada manfaat. Mereka yang masih berusaha menjernihkan akal dan hati baru sampai pada tahap menuntut si pembuat onar untuk mengembalikan apa yang dicuri dan dirusak. Belum sampai pada akar masalah yang harus diobati.

Tiada salah akhirnya hiburan menjadi tempat pelarian. Oppa dan Noona menjadi alasan mereka pulang dan bangkit. Sesuatu yang fana dan mendoktrin akan gemerlap dunia yang tak abadi selamanya. Mereka alpa, bahwa oppa dan noonanya juga manusia yang dibaliknya dijadikan alat dan budak.

Tenggelam. Barangkali kartu identitas mereka Indonesia. Namun, sudahkah benar cita-citanya telah sampai pada tahap menyelamatkan bangsa ini dari kegagalan yang tak mudah diraih hanya satu dua tahun saja. Butuh jalan panjang menjadi dewasa dan berpikir idealis.

Nyaris seluruh elemen tak menyadari bahwa ada ancaman yang merusak citra diri bangsa yang berKetuhanan Yang Maha Esa. Ketika pemerintah dan rakyat sama-sama buta. Kemudian kelak tutup mata itu dibuka, barangkali kita terlambat menyadari. Bukan lagi ekspansi kekerasaan yang menghancurkan harga diri. Tatkala sebuah hegemoni mencuri akal budi bangsanya sendiri. Indonesia kehilangan identitasnya yang sejati.

References

Tempo. (2010). Sutan Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil. Jakarta: Kompas Gramedia.

CNN Indonesia. (2020, Oktober 10). AJI: Kekerasan Polisi ke Jurnalis untuk Sembunyikan Kejahatan. Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201010141329-20-556854/aji-kekerasan-polisi-ke-jurnalis-untuk-sembunyikan-kejahatan

CNN Indonesia. (2020, September 24). Panas Dingin Konflik Papua di Tangan Jokowi. Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200923175941-20-550076/panas-dingin-konflik-papua-di-tangan-jokowi

Hatta, M. (1960). Demokrasi Kita. Jakarta: Pustaka Antara.

Tempo. (2015). Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman. Jakarta: Kompas Gramedia.

Widiyani, R. (2020, September 4). Soal Menag Sebut Radikalisme, Apa Pengertiannya? Retrieved from detiknews: https://news.detik.com/berita/d-5159976/soal-menag-sebut-radikalisme-apa-pengertiannya

 

Oleh: Chairunisa

Words of Thoughts: RUU MiNol Minta Ditampol?

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru saja memasukan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) Larangan Minuman Alkohol ke dalam daftar Program Legislasi Nasional. Saat saya membaca salah satu pasalnya, saya tertawa sendiri. Mungkin setelah menutup kuping terhadap masyarakat dalam UU Cipta Kerja, sekarang DPR menutup matanya dalam merancang RUU ini.

Salah satu tujuan DPR dalam membuat RUU ini adalah karena pengaturan minuman beralkohol saat ini masih belum diatur secara terpadu dan komprehensif. RUU ini menurut saya setengah-setengah dan tidak jelas. Mungkin yang saya setuju dalam RUU ini adalah bagaimana orang yang dalam pengaruh alkohol merenggut nyawa orang lain. Menurut saya hal tersebut memang sepantasnya dibuat untuk kesadaran masyarakat Indonesia.

Sebelum membahas bahayanya RUU ini terhadap masyarakat Indonesia, mari kita bahas pasal yang membuat saya beropini bahwa RUU ini dibuat saat mereka menutup mata. Pasal tersebut ada pada pasal 8 ayat 2, lanjutan dari pasal lima, enam, tujuh yang berbunyi;

 

Pada pasal tersebut disebutkan beberapa pengecualian, yang membuat saya tertarik adalah pengecualian terhadap wisatawan. Sejatinya, wisatawan ada dua, yaitu wisatawan asing dan domestik. Namun, pada halaman penjelasan per-pasal disebutkan bahwa pasal tersebut cukup jelas. Jadi saya boleh melakukan yang dilarang pada pasal lima, enam, dan tujuh jika saya sedang berpergian ke kota lain?

Kemudian, pada poin e disebutkan dalam penjelasan per-pasal bahwa tempat yang diizinkan adalah toko bebas bea, hotel bintang lima, restoran dengan tanda talam kencana dan talam selaka, bar, pub, klub malam, dan toko khusus penjualan minuman beralkohol.

Karena pasal lima, enam, dan tujuh tidak berlaku kepada wisatawan domestik, jadi apakah ini adalah life hack yang diberikan oleh DPR? Apakah wisatawan domestik ditakdirkan untuk menjadi reseller? Jadi apakah wisatawan domestik boleh membeli pada toko khusus penjualan minuman beralkohol dan minum di mana saja? Waduh saya tidak tahu, mungkin bisa tanya ke DPR?

Setelah membahas pasal, mari kita bahas bahayanya RUU ini bagi masyarakat Indonesia. Karena RUU ini berisi larangan bagi siapapun untuk memproduksi, memasukkan, menyimpan, mengedarkan, dan/atau menjual minuman beralkohol, maka akan berdampak sekali bagi konsumen maupun produsen.

Melihat hal tersebut, dalam pandangan saya, probabilitas penjualan minuman yang aneh (dicampur kimia untuk memabukan) akan masif. Jika melihat bagaimana ganja dilarang di Indonesia kemudian salah satu masyarakat ‘pintar’ Indonesia membuat ganja sintetis dimana tidak ada kandungan ganja sama sekali, hanya saja tembakau yang dicampur dengan kimia.

Itu adalah pandangan awam saya sebagai masyarakat, mohon maaf jika ada salah kata, ini pure keresahan saya terhadap pemerintahan yang mana tidak pernah mendengarkan aspirasi, namun selalu membuat UU yang kontradiktif bagi masyarakat. Sekian dan terima kasih.

 

Oleh: Sulthan Ariq Aden

Words of Thoughs #10 Virus Hoax Menjangkiti Masyarakat

Saat ini dunia sedang dihebohkan dengan virus yang dinobatkan oleh WHO sebagai sebuah pandemi, virus itu adalah virus Covid-19. Namun, rupanya tak hanya virus Corona yang perlu untuk masyarakat lawan saat ini. Masyarakat tidak menyadari bahwa terdapat satu virus yang sudah lama merajalela, tetapi belum ada tindakan pencegahan serius untuk memusnahkannya. Virus tersebut adalah virus hoax.

Saat ini kita sudah berada di era digital, di era ini semua bidang sudah dimudahkan dengan pesatnya perkembangan teknologi, khususnya internet. Tentu hal ini merupakan sebuah kemajuan yang sangat berguna bagi berbagai aspek kehidupan. Namun, segala sesuatu di dunia ini tidak hanya membawa sebuah keuntungan, tetapi akan selalu ada kerugian yang mengikutinya. Sama halnya dengan perkembangan teknologi ini.

Kemudahan akses informasi harus diiringi dengan kemampuan memilah informasi dan bijak dalam mempergunakannya. Dua hal tersebut haruslah beriringan karena apabila tidak maka akan memberikan dampak buruk yaitu mudahnya informasi hoax tersebar di kalangan masyarakat. Mengapa disebut virus hoax? Karena seperti virus lainnya, sebuah informasi hoax akan dengan mudah tersebar dengan cepat ketika sudah ada satu orang yang terjangkit, dalam hal ini yaitu mempercayai suatu informasi hoax dan menyebarluaskannya.

Definisi hoax itu sendiri adalah informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi yang sebenarnya. Dalam KBBI disebutkan bahwa arti hoax adalah berita bohong. Dengan kata lain, arti hoax dapat didefinisikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan, tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Menurut Silverman (2015), hoax adalah sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun ‘dijual sebagai kebenaran. Menurut Werme (2016), hoax adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoaks bukan sekedar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Berikut ini adalah jenis-jenis hoax yang perlu diwaspadai:

  1. Satire atau parodi

Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Secara keumuman, satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi.

  1. Misleading content(konten menyesatkan)

Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

  1. Imposter content(konten tiruan)
    Imposter content terjadi jika sebuah informasi mencatut pernyataan tokoh terkenal dan berpengaruh. Tidak cuma perorangan, konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.
  2. Fabricated Content(konten palsu)
    Fabricated content terbilang menjadi jenis konten palsu yang paling berbahaya. Konten ini dibentuk dengan kandungan 100% tidak bisa dipertanggungjawabkan secara fakta.
  3. False connection(koneksi yang salah). Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.
  4. False context(konteks keliru)
    False context adalah sebuah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya, false context memuat pernyataan, foto, atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada
  5. Manipulated content(konten manipulasi)
    Manipulated content atau konten manipulasi biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan media-media besar dan kredibel.

Misinformasi atau sering disebut hoax kini tengah menjadi persoalan yang cukup serius. Pasalnya, hoax menjadi salah satu pemicu fenomena putusnya pertemanan, gesekan, dan permusuhan. Lantas Mengapa banyak orang yang mudah percaya dengan informasi-informasi hoax dan mengapa pula penyebarannya begitu masif meski kebenarannya belum  dapat dipastikan?

“Orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misal seseorang memang sudah tidak setuju terhadap kelompok tertentu, produk, atau kebijakan tertentu. Ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya tersebut, maka ia mudah percaya,” ujar Laras Sekarasih, PhD, dosen Psikologi Media dari Universitas Indonesia, saat dihubungi Kompas.com.

Yang menjadi faktor utama disini ialah fanatisme dan afirmasi. Ketika seseorang terlalu fanatis terhadap sesuatu maka jika terdapat informasi mengenai hal yang ia fanatiskan, maka keinginan untuk pengecekan kebenaran akan berkurang. Selain itu, Ketika kepercayaan, opini, atau sikap seseorang sudah terafirmasi, akan timbul pemicu seseorang dengan mudahnya meneruskan informasi hoax kepada pihak lainya.

Selain faktor-faktor tersebut, banyak juga hal-hal lain yang menyebabkan masyarakat mudah terkena hoax, berikut penjelasannya:

  • Dilansir dari forbes.com, yang membahas tentang artikel eksperimen yang dilakukan oleh IFL science, sebanyak 141 ribu orang membagikan berita berjudul Marijuana Contains “Alien DNA” From Outside Of Our Solar System, NASA Confirms, padahal isi beritanya sama sekali tidak membahas DNA Alien. Ketika disurvei, para pembaca memang hanya tertarik dengan judulnya dan tidak membaca isinya. Hal ini dapat kita simpulkan bahwa hoax dapat menyebar ketika pembuat berita memberikan judul yang tidak sinkron dengan sebuah isi tulisannya.
  • Dalam penelitian yang dilakukan oleh University of Leicester ditemukan bahwa orang yang mengalami lebih banyak tragedi dan kesulitan akan lebih mudah ditipu ketika ia tumbuh dewasa. Misalnya, seseorang yang mengalami perundungan, perceraian, cedera, dan tragedi lainnya akan cenderung lebih mudah mempercayai informasi salah. Hal ini mengindikasikan bagaimana misinformasi tersebut bisa menyerang masyarakat luas, dengan mudahnya akses informasi melalui sosial media, kelompok masyarakat yang demikian akan semakin rentan untuk mendapatkan berita yang salah.
  • Menurut para ahli, semakin banyak seseorang mendengarkan ide, semakin besar kemungkinan seseorang mempercayai ide tersebut sebagai hal yang benar. Informasi-informasi ini akan disajikan dalam berbagai media seperti televisi, radio, dan internet. Hal tersebut dapat kita telusuri bahwa pesan hoaks tidak semata-mata dibuat begitu saja, tetapi dirancang dan disebarkan dengan sedemikian rupa agar dapat dipercaya oleh orang-orang. Oleh karena itu, cara “repetition” dilakukan oleh para penyebar berita melalui media agar pesan palsu ini dapat tersebar luas dan pada akhirnya akan memengaruhi para pembaca berita.

 

Hoax menurut pandangan ahli

  • Ahli Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Muhammad Alwi Dahlan menjelaskan hoax atau kabar bohong merupakan kabar yang sudah direncanakan oleh penyebarnya tersebut. “Hoax merupakan manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah.” Dia menjelaskan, ada perbedaan antara hoax atau berita bohong biasa, karena hoax direncanakan sebelumnya. “Berbeda antara hoax dengan berita karena orang salah kutip. Pada hoax ada penyelewengan fakta sehingga menjadi menarik perhatian masyarakat,”
  • Guru Besar hukum siber dari Universitas Malaya, Malaysia, Abubakar Munir bahkan menyebutkan bahwa penyebaran berita bohong melalui instrumen media online tidak hanya merusak kehidupan demokrasi suatu negara, tapi lebih jauh menjadi penyebab runtuhnya tatanan sebuah negara bangsa.

Di era globalisasi ini, hoax sudah menjadi tumor negara. Sebagai generasi yang paham dengan teknologi dan informasi, kita harus pintar dalam memilih informasi dan berita. Karena saat ini banyak berita palsu yang sengaja disebarkan oleh oknum-oknum yang tidak betanggung jawab. Jika tidak  teliti dan hati-hati, pengguna media sosial atau netizen akan dengan mudah termakan hoax dan bahkan bisa ikut menyebarkan hoax tersebut. Tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban fitnah. Langkah sederhana untuk mengidentifikasi berita hoax agar kita tidak termakan hoax, yaitu hati-hati saat membaca judul berita yang sensasional dan provokatif, cermati alamat situs, perksa faktanya, cek keaslian foto atau video, dan ikut serta dalam komunitaas anti-hoax.

 

Referensi

https://www.liputan6.com/news/read/3867707/hoax-adalah-ciri-ciri-dan-cara-mengatasinya-di-dunia-maya-dengan-mudah

https://www.merdeka.com/jatim/mengenal-arti-hoax-atau-berita-bohong-dan-cara-tepat-menyikapinya-kln.html#:~:text=Arti%20hoax%20adalah%20kabar%2C%20informasi,direkayasa%20untuk%20menutupi%20informasi%20sebenarnya.&text=Padahal%20pencipta%20berita%20tersebut%20tahu,ia%20berikan%20adalah%20berita%20palsu.

https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks

https://www.liputan6.com/news/read/3867707/hoax-adalah-ciri-ciri-dan-cara-mengatasinya-di-dunia-maya-dengan-mudah

https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/01/11/ojm2pv361-ahli-hoax-merupakan-kabar-yang-direncanakan

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5c8a3ed470ef2/pandangan-dua-ahli-tentang-pengaturan-berita-bohong/

https://tirto.id/3-alasan-kenapa-orang-mudah-tertipu-hoaks-dan-berita-bohong-ejku

https://www.idntimes.com/science/experiment/bayu/ini-8-alasan-kenapa-banyak-orang-indonesia-mudah-percaya-hoax-atau-kabar-bohong/8

https://nasional.kompas.com/read/2017/01/23/18181951/mengapa.banyak.orang.mudah.percaya.berita.hoax.?page=all

 

Oleh: Maharani Arlla Yesifa, Muhammad Hisyam Nahir, dan Yasmina Shofa Az Zahra

Diskusi Publik “Media Coverage dalam Isu Kekerasan Aparat di Media Mainstream”

Divisi Kajian dan Aksi Strategis BEM Fikom Unpad pada 29 November 2020 kemarin telah melaksanakan diskusi publik terkait cakupan pemberitaan media mainstream mengenai isu kekerasan aparat selama demonstrasi UU Cipta Kerja yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.

Sesuai dengan sampaian Ketua BEM Fikom Unpad 2020 Daniel Rexa Faraz, diskusi ini diharapkan mampu membangun wawasan dan sikap terkait pers Indonesia yang masih mendapatkan banyak tekanan khususnya dalam peliputan demonstrasi beberapa waktu terakhir.

Mengundang Abie Besman, S.Sos, M.Si. selaku Executive Producer Kompas TV sebagai perwakilan praktisi media, serta Dr. Eni Maryani, M.Si. selaku dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad sebagai perwakilan akademisi.

Bertajuk “Media Coverage dalam Isu Kekerasan Aparat di Media Mainstream”, diskusi ini berfokus pada sikap represif yang diterima jurnalis di lapangan peliputan. Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di beberapa kota di Indonesia di ketahui telah menumbuhkan kembali isu pembungkaman pers oleh aparatur negara.

Tak hanya bicara tindakan perundungan terhadap jurnalis. Diskusi ini kemudian bergeser pada mengenai media massa yang memberikan pengaruh dalam sebuah tatanan masyarakat. Nilai yang akhirnya dibangun dalam masyarakat, maupun pandangan khalayak yang muncul terhadap industri media massa saat ini.

Sepanjang diskusi dilakukan, ada lima pertanyaan yang hadir kepada panelis hari ini.

Pertanyaan pertama datang dari Amin Saragih selaku akademisi Fikom Unpad. Ia bertanya mengenai komentar Eni Maryani terhadap kompetensi jurnalis yang kurang memahami tentang rendahnya literasi media, UU Pers, hingga Kode Etik Jurnalistik.

Eni Maryani mengakui masih ada jurnalis yang tidak memahami tiga hal tersebut. Kemudahan menjadi jurnalis dari berbagai bidang nyatanya dapat menumbuhkan perbedaan paham jurnalisme dalam lingkup profesi jurnalis selama ini. Bagi kalangan akademisi jurnalistik, profesi jurnalis bukan lagi melihat secara materi yang dihasilkan, melainkan pilihan hidup dalam meliput fakta untuk sampai pada masyarakat. Ketidakpahaman terhadap kode etik dapat menanggalkan rasa puas terhadap karya jurnalistik tersebut. Selain itu institusi perusahaan media saat ini belum memiliki model perlindungan kokoh terhadap para wartawannya, yang justru rentan mendapat pemutusan kerja sepihak. Karena itu penting pembentukan dan pemahaman regulasi yang baik dalam melindungi dan membangun jurnalis oleh berbagai pihak terkait.

Pertanyaan selanjutnya dari Fariza kepada Abie Besman. Kepolisian sebagai aparat merupakan salah satu sumber utama pemberitaan jurnalis. Informasi yang dihadirkan oleh polisi selamanya benar atau justru sebaliknya, terutama berkaitan dengan kerusuhan di tengah demonstrasi.

Abie mengakui bahwa aparat adalah bagian dari sumber berita. Jika kita bertindak sebagai seorang masyarakat sipil yang membutuhkan perlindungan, mau tidak mau kita harus memercayai kepolisian sebagai pihak berwenang. Namun selaku jurnalis, kewenangan belum tentu membuktikan kebenaran, tugas jurnalis adalah mengawasi dan menguji fakta lapangan. Sebab pemilik otoritas belum tentu membuktikan kebenaran.

Selanjutnya adalah pertanyaan dari Maisaroh. Menyinggung soal kepentingan dari media massa dalam menyajikan isu tertentu, ia menangkap kepentingan terhedup cenderung condong pada dimensi realistis dibanding dimensi idealis seorang jurnalis. Negosiasi seperti apa yang tepat bagi jurnalis di antara idealisme serta kepentingan yang ada di belakangnya.

Abie Besman menjawab, bahwa antara buruh ataupun jurnalis belum memiliki relasi kuasa yang seimbang dengan perusahaan. Terkadang di Indonesia kebijakan jurnalisme diberi tekanan kepentingan yang lebih kuat seperti ekonomi, politik, pemilik perusahaan dan lainnya. Jarang sekali media massa di Indonesia berdiri sendiri, melainkan pengiring bagi perusahaan yang jauh lebih besar di atasnya.

Itulah yang membuat subjektifitas sangat erat bagi media massa khususnya di Indonesia. Tak hanya melihat output media, namun lihat siapa pemilik media itu. Relasi kekuasaan tersebut tampak tidak ideal, harapannya ke depannya jauh lebih baik.

Sementara bagi Eni Maryani, pesimistik sering timbul terkait pertanyaan tersebut. Namun ia tetap mengingatkan bahwa kewajiban seseorang menjalankan apa yang mampu ia lakukan. Jika ingin menjadi praktisi media lihatlah media yang berusaha menjauhkan diri dari kepentingan pemilik medianya. Menilik segala lapisan dalam institusi hingga ideologi yang dianut, sehingga negosiasi masih mungkin dilakukan.

Dalam hierarki individu tetap memiliki peranan, termasuk jurnalis. Sebab jurnalis yang langsung melihat sebuah persitiwa. Bagaimana profesionalisme dibuktikan dengan wawasan luas dan perspektif yang berpihak pada kebenaran. Tanpa melihat siapa atasan seorang jurnalis, yang terpenting di awal adalah menghasilkan karya jurnalis terbaik. Nantinya diharapkan akan ada negosiasi antara jurnalis, pemilik media, dan pemilik modal. Bagaimanapun kebenaran harus dikemas dengan baik demi melihat daya tarik dan kualitas.

Negosiasi terbaik adalah bertindak kreatif. Tanggung jawab jurnalis buat mengubah institusi, melainkan semua orang. Karena itu pentingnya kelompok yang memiliki pendidikan tajam terkait jurnalis, sehingga pemahaman idealisme terkait jurnalistik jauh lebih sempurna.

Selanjutnya pertanyaan dari Andi Rafli terkait kontradiksi sikap represif aparat di lapangan dalam pemberitaan media. Apakah dibutuhkan keterlibatan media asing dalam menyuarakan suara yang terbungkam? Terlebih lagi di Thailand ramai pemberitaan terhadap demonstrasi oleh media asing dibandingkan media lokalnya.

Abie Besman mengatakan, hal ini berkaitan dengan news value salah satunya yaitu kedekatan. Selain siapakah pembacanya, namun juga unsur geopolitik. Kepentingan apa yang hendak diraih dari sebuah negara terhadap negara asing yang dilihatnya. Contohnya pemberitaan media Jerman terhadap isu penggunaan hijab bagi anak-anak di Indonesia yang justru menuai kritik karena tidak adanya keterkaitan urusan. Kecuali berkaitan dengan isu peristiwa kemanusiaan contohnya tsunami Aceh tahun 2004 lalu.

Peliputan media asing berkaitan dengan batas negara. Selain karena perizinan yang panjang, maka khalayak berhak sangsi bahwa negara lain juga akan turut serta ikut campur dalam sebuah permasalahan tersebut.

Lalu menurut Eni, bagaimanapun media asing sendiri akan memilih berita apa yang akan mereka angkat. Hal yang tidak bersangkutan dari pemerintahan internal tentunya kecil kemungkingkan untuk dipilih.

Pertanyaan terakhir datang dari Firdaus, terkait tekanan terhadap jurnalis di media mainstream yang ditunggangi berbagai kepentingan politik. Namun sebagai media yang lebih mendapat perhatian masyarakat, bagaimana cara jurnalis untuk tetap idealis dalam memberikan pemberitaan yang benar ketika masyarakat masih awam terhadap media alternatif? Sementara masyarakat mudah sekali tergiring opini akibat media yang dikonsumsinya.

Menurut Eni, bagi masyarakat awam media mainstream lebih aman dengan prosedur yang lebih tertata. Disamping itu, segala hal yang timbu di masyarakat sebenarnya dipenuhi kepntingan sekalipun itu pengetahuan. Justru khalayak harus mampu mengenali kepentingan apa-apa yang disampaikan. Keterbukaan media terhadap kepentingan tertentu sebenarnya jauh lebih baik sehingga masyarakat dapat menilai apa yang dibutuhkannya.

Pada akhirnya segala hal harus dinegosiasikan antara media dan khalayak dengan seimbangnya dua kepentingan antara memenuhi kebutuhan media maupun konten yang dibutuhkan masyarakat.

Lalu Abie menambahkan, ini erat dengan krisis kepercayaan. Perbedaan antara media konvensional dan media digital terletak pada penanggung jawab media terkait. Tidak hanya harus cerdas memahami konten, namun juga dari mana platform tersebut berasal. Ada proses yang harus dilalui dalam mengembangkan media massa yang baik bagi masyarakat. Termasuk memahamkan masyarakat dalam berliterasi media.

Simpulan dalam diskusi kali ini di antaranya:

  • Kemewahan di abad ini bukan pada kemudahan dalam mendapatkan informasi, melainkan kemudahan untuk menyaring informasi. Hal itulah yang didapat oleh orang-orang berpendidikan tinggi di Indonesia. Sebab jurnalis tidak bergerak sendiri, melainkan society itu sendiri.
  • Para akademisi media diupayakan terus memperbaiki pengetahuan dan kompetensi di bidang media sehingga dapat membangun media yang lebih baik. Meningkatkan idealisme dalam proses sebuah media.
  • Sikap represif yang diterima wartawan baik itu media mainstream maupun alternatif tak hanya hadir dari kalangan aparatur negara. Pihak dari kalangan manapun baik itu warga sipil hingga politikus nyatanya memiliki rekam jejak dalam kasus perundungan kepada jurnalis, khususnya di media sosial.
  • Subjektifitas yang merupakan agenda setting media telah menurunkan tingkat kepercayaan berbagai pihak terhadap media mainstream. Namun, sikap tersebut akhirnya berimbas pada penghakiman wartawan yang tengah mencari objektifitas di lapangan dari berbagai sudut pandang pihak terkait dalam sebuah isu.
  • Sikap represif baik secara fisik maupun psikis tidak pernah dibenarkan dari semua sudut kehidupan hukum. Kekerasan yang terjadi saat ini adalah bagian dari kepentingan dan kepentingan tersebut akhirnya memunculkan hukum. Bagaimanapun, hukum harus memastikan bahwa dalam sudut kehidupan tidak diperlukan lagi kekerasan untuk mengatur manusia.
  • Berdasarkan akademisi yang disampaikan Eni Maryani, mobilitas media massa tidak hanya dipengaruhi oleh pihak media itu sendiri. Seluruh lapisan sosial termasuk masyarakat perlu mendukung kerja media tersebut. Masyarakat memiliki trust terhadap media mainstream yang menjadi rujukan terdekat saat ini.