Diskusi Publik #2 “Pentingnya Manajemen dan Komunikasi Risiko ketika Pandemi: Telaah Kebijakan Pemerintah di Era New Normal”.

Didasari pada kekhawatiran masyarakat mengenai belum tepatnya penerapan New Normal dalam masa pandemi di Indonesia. Mengingat bahwa jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah signifikan semenjak New Normal diterapkan pada 1 Juni 2020 lalu.

Memicu Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Bima Fikom Unpad Kabinet Pancarona mengadakan diskusi publik untuk saling bertukar pendapat mengenai hal tersebut pada hari Minggu, 6 September 2020 yang berlangsung pukul 13.00 hingga 15.30 WIB.

Diskusi yang dilakukan secara daring melalui media Zoom ini menghadirkan Erman Sumirat, SE, MBuss, CSA, CRP, Ak dan Dr. Herlina Agustin, S.Sos, M.T.

Alur diskusi dipimpin oleh Shereina Sarah Ayumi (Kepala Bidang Kominfo BEM Fikom Unpad) selaku moderator.

Diskusi dimulai dengan pemaparan materi oleh kedua narasumber pada pukul 13.30 WIB. Materi yang diberikan membahas dari sisi ekonomi dalam hal ini manajemen risiko dan komunikasi risiko.

Kemudian dipersempit ruang lingkupnya sesuai dengan fokus studi masing-masing narasumber— Erman Sumirat, SE, MBuss, CSA, CRP, Ak selaku Dosen FEB Unpad dan Dr. Herlina Agustin, S.Sos, M.T. selaku Dosen Fikom Unpad.

Pemaparan materi dilakukan yang dengan teknik yang menarik yang terkadang memancing gelak tawa dan perhatian audiens, masing-masing narasumber diberikan waktu selama 45 menit untuk memaparkan berdasarkan sudut pandang bidang yang dikuasai, dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab bersama audiens.

Sesi tanya-jawab dibuka dengan pertanyaan dari Ermawanto. Pertanyaan dari beliau adalah, “Bagaimana menyikapi regulasi pemerintah yang bisa berubah sewaktu-waktu dan berdampak besar pada perusahaan?”

Pertanyaan dijawab oleh narasumber Herlina Agustin bahwa sikap yang dilakukanlah adalah berusaha memperhitungkan risiko dengan cara manajemen risiko dari setiap keputusan kemudian lakukan review komunikasi risiko serta perbanyak informasi sebagai opsi penanganan risiko yang ada.

Dari narasumber Erman Sumirat, beliau menjawab jika masalah regulasi tergantung industri tempat bekerja. Menurut Erman, pemerintah yang memiliki power dalam memberikan aturan. Namun perubahan itu bisa juga diintervensi oleh pengusaha-pengusaha nakal.

Jika tujuannya adalah membuat bisnis, Erman menyarankan terlebih dahulu membuat mapping bisnis untuk membuat manajemen risiko. Erman menjelaskan biasanya dalam perusahaan yang memang bagian untuk melakukan komunikasi dalam rangka “melobi”.

Pertanyaan kedua diajukan oleh Fariza dari Fakultas Komunikasi Unpad. Pertanyaan dari beliau adalah,

“Untuk bisa mempersiapkan risiko ekonomi ke depan, salah satu hal terpenting bagi beberapa orang adalah memiliki tabungan. Namun bagaimana jika seseorang tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk menabung, bahkan kurang untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari?”

Erman Sumirat menjawab dengan mengharuskan adanya safe income yang bisa diandalkan dalam keadaan seperti krisis ini. Biaya hidup harus lebih hemat  demi menjaga tanggungan agar bisa menabung

Erman juga mengatakan, untuk menabung harus ada patokan-patokan tertentu yang dipakai demi menjaga tabungan.

Dari sisi Herlina Agustin menjawab bahwa menabung tidak selamanya tentang saving money, tetapi bisa jadi kesempatan buat investasi dalam kemampuan atau saving skill. karena skill ini juga bisa dikembangkan di masa pandemi ini. Seperti adanya sertifikasi dan sejenisnya.

Pertanyaan ketiga datang dari Dinda mahasiswi Fakultas Hukum Unpad, ia bertanya: “Menurut pendapat Bapak dan Ibu, regulasi seperti apa yang ideal untuk diimplementasikan di situasi saat ini (Pandemi Covid-19) sehubungan dengan manajemen risiko dan komunikasi risiko?’

Dari pertanyaan ini narasumber Herlina Agustin menyatakan bahwa penanya harus menjelaskan secara spesifik regulasi jenis apa. Dengan kejelasan jenis regulasi atau siapa yang mengeluarkan dengan begitu bisa diperjelas tujuan regulasinya ingin berfokus kemana.

Herlina Agustin juga menjelaskan sebelum memutuskan sebuah peraturan kita perlu informasi yang banyak, dan pertimbangan risiko yang jelas.

Pertanyaan terakhir datang dari Camilia Mahasiswi UNY, pertanyaan beliau adalah,

“Bagaimana cara membangun komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat agar terciptanya satu pemahaman tentang kebijakan yang telah dibuat dalam masa pandemi ini jika dilihat dari manajemen resiko dan komunikasi risiko?”.

Pertanyaan ini kembali dijawab oleh Herlina Agustin terlebih dahulu, ia mengatakan seharusnya pemerintah punya payung (legal) untuk melindungi warga. Jadi tujuan utama harus sudah jelas dan implementasinya juga tepat.

Dalam penanganan Covid-19 dan beberapa bidang komunikasi yang dilakukan pemerintah tidak sesuai dengan hukum atau regulasinya. karena seringkali aturan dan implementasi hanya beradu untuk kepentingan tertentu semata.

Sedangkan narasumber Erman Sumirat menjawab dengan akronim singkat yaitu komunikasi harus SMART yang merupakan singkatan dari spesifik (specific), bisa dicapai (achievable), bisa diukur (measurable), realistis, dan tepat waktu (timely).

Selesai sesi pertanyaan pukul 15.30 WIB, kedua narasumber membuat pernyataan penutupan untuk seminar kali ini.

Narasumber Erman Sumirat pertama-tama berterima kasih untuk undangan dari BEM Fikom Unpad ini. Ia mengatakan bahwa hidup itu memang penuh risiko, kuncinya adalah kita perlu memikirkan apa yang mungkin terjadi bagaimana mitigasinya, serta berapa biayanya.

Setiap risiko dan krisis harus ada mitigasinya dan solusinya, meskipun bisa berlangsung cepat atau lambat, sebagai manusia kita seharusnya tetap tenang, tidak panik dan tetap memikirkan jalan keluar terbaik.

Sedangkan Herlina Agustin menekankan kepada pengendalian dan disiplin diri di masa pandemi. Dengan cara mengendalikan diri serta mengetahui apa yang kita harus lakukan dan disiplin seperti tetap cuci tangan dan menggunakan pake masker. Baginya, kesehatan adalah kunci dari produktivitas dan peningkatan ekonomi.

Intisari Diskusi Publik;

  •         Perlu adanya kesadaran dari seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah karena kecepatan pemulihan ekonomi dari krisis masa pandemi tergantung pada rakyat dan pelaku ekonomi.
  •         Dari sisi manajemen, risiko bisa diminimalisir dengan cara mapping atau membuat profil risiko yang didasari oleh skala prioritas besaran risikonya fungsinya demi memberikan penanganan yang tepat.
  •         Masyarakat perlu memahami pentingnya komunikasi risiko sebagai proses interaktif pertukaran informasi dan pendapat tentang risiko antara penilai risiko, manajer risiko, dan pihak berkepentingan lainnya.
  •         Dibutuhkan keberanian saat berkomunikasi di tengah risiko, pandemi seharusnya dapat menyadarkan masyarakat untuk melihat fenomena ini agar berusaha mencari dan membentuk mitigasi dan solusi bukan hanya sekedar peristiwa belaka.
  •         Komunikasi risiko memiliki 7 macam kebutuhan review yaitu; Scientific review, Editorial review, Management review, Sensitivity review, Legal review, Patens review dan Public affair review.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *