Ketika Hoaks Memperkeruh Suasana di Tengah Pandemi

Awal 2020 dunia dibuka dengan kematian lebih dari 61,000 jiwa. Kematian ini berbeda karna semua kematian ini hanya disebabkan oleh satu pandemi, yang belakangan kita kenal sebagai corona virus. Oleh karena itu tidak heran hal ini menjadi persoalan utama yang sedang kita hadapi saat ini, hal yang menambah masalah adalah dalam perkembangan tekhnologi saat ini, baik berita benar maupun berita bohong jauh lebih cepat menyebar ketimbang penyebaran virus itu sendiri.  Sehingga tidak sedikit daripada masyarakat yang akhirnya jatuh pada informasi-informasi palsu yang bukannya memperbaiki keadaan malah mengantarkan kita pada permasalahan baru.

Penyebaran berita dan informasi palsu, yang lebih dikenal dengan hoaks, seringkali dipercaya oleh masyarakat luas, dan mengesampingkan berita atau informasi faktual. Karakteristik hoaks, salah satunya disajikan secara bombastis kerap kali lebih diperhatikan oleh masyarakat. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak melakukan verifikasi atas pemberitaan tersebut. Dilansir dari detik.com, terhitung sejak 12 Maret lalu, Kominfo memberikan update mengenai jumlah hoaks dan disinformasi mengenai virus corona, yang mencapai angka 196 berita.

Banyaknya berita dan dan informasi palsu yang ada semakin menjadi ketika pada saat yang sama terdapat dua orang yang terdeteksi positif corona di Kota Depok, masalahnya adalah efek yang terjadi selanjutnya, yaitu minimnya literasi masyarakat atas media dan informasi yang begitu banyak mengantarkan pemahaman yang keliru di masyarakat terhadap corona, termasuk cara penyebaran serta penanggulangannya.

Seperti yang kita ketahui, belakangan ini di berbagai tempat di Indonesia masyarakat secara berbondong-bondong membeli berbagai keperluan hidup secara masif, di antaranya seperti masker, hand sanitizer, tisu, dan sembako hingga sempat dan masih menjadi sesuatu yang langka. Peristiwa ini dikenal luas dengan istilah panic buying, di mana konsumen atau masyarakat mencoba mengantisipasi sebuah peristiwa yang terjadi dengan melakukan pembelian terhadap berbagai kebutuhan hidup secara berlebihan. Peristiwa panic buying bukan kali ini saja terjadi, sesungguhnya hampir di seluruh negara yang telah terdeteksi adanya virus corona bisa dipastikan terjadi peristiwa serupa.

Permasalahan muncul ketika panic buying mengakibatkan krisis terhadap barang-barang kesehatan, seperti masker dan hand sanitizer yang saat ini sangat dibutuhkan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menyatakan bahwa sesungguhnya yang penting dan membutuhkan masker adalah mereka yang sedang sakit, dan mereka yang berhubungan langsung dengan pasien yang teridentifikasi corona, dalam hal ini dokter dan perawat. Bukan mereka yang sebenarnya sehat-sehat saja. Perlu digaris bawahi adalah Penggunaan masker pada yang sakit dibutuhkan untuk mencegah penularan virus corona, namun pada kenyataannya saat ini masker dan tisu yang dibutuhkan malah disalah gunakan oleh mereka yang sejujurnya tidak membutuhkannya. Pernyataan WHO tersebut untuk mengantisipasi adanya kelangkaan barang, yang nantinya berujung kepada orang sakit tidak memiliki pengamanan diri.

Belum lagi salah kaprah yang terjadi ketika penggunaan masker dan cara masyarakat mencuci tangan. Penggunaan masker dan cara mencuci tangan yang salah malah akan meningkatkan kemungkinan kita tertular virus corona. Karna sesungguhnya virus ini disebarkan melalui tetesan (droplet) dan sentuhan bukan melalui udara (airbone). Oleh karenanya, masker lebih sebagai langkah preventif kita untuk tidak menyentuh area hidung dan mulut ketika tangan telah terpapar virus. Cara mencuci tangan yang baik dan benar juga sangat penting untuk dimengerti oleh masyarakat sebab penggunaan cara mencuci tangan yang salah tidak akan membuat tangan menjadi bersih dan memungkinkan virus corona dan virus-virus lain untuk tetap bersemayam.

Selain masalah aktifitas panic buying di seluruh Indonesia, adapula ulah beberapa oknum yang memperkeruh suasana dengan merilis video atau foto yang sebenarnya tidak berhubungan dengan corona. Hoaks seperti ini membahayakan bagi masyarakat luas karena dapat menimbulkan berbagai efek, salah satunya kepanikan masal yang akan memperburuk keadaan sosial masyarakat.

Beberapa waktu yang lalu saya menerima sebuah video dimana beberapa oknum telah dengan sadar menimbun antiseptik dan kapas ber-alkohol (alcohol swab) yang seharusnya tidak diperjualbelikan karena dibutuhkan oleh tenaga medis. Hal yang ditakutkan adalah jika perilaku seperti ini terus dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab, kelak semua bahan-bahan yang dibutuhkan akan sangat langka dan mahal adanya. Serta memperburuk keadaan itu sendiri.

Untuk itu, saat ini perlu adanya operasi pasar untuk tetap menjaga stabilitas pasar dan menjamin keberadaan bahan-bahan yang dianggap penting dan dibutuhkan oleh masyarakat di tengah pandemi seperti sekarang ini.

 

BEM Bima Fikom Unpad

Kabinet Pancarona

2020

Oleh: Agam Inaldi Akbar, M. Rizal Zulfikar

 

Referensi

https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/12/083913565/update-virus-corona-di-dunia-jadi-pandemi-global-125851-terinfeksi-67003

https://inet.detik.com/cyberlife/d-4921698/update-hoaks-corona-kominfo-temukan-147-termasuk-disinformasi

https://inet.detik.com/cyberlife/d-4936108/update-ada-196-hoaks-virus-corona-ditemukan-di-indonesia

https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/08/100300523/who–sekali-lagi-orang-sehat-tak-perlu-pakai-masker

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200302155802-4-141800/hati-hati-salah-pakai-masker-bisa-tingkatkan-risiko-corona

https://www.alinea.id/nasional/hand-sanitizer-langka-dan-mahal-ini-tips-sederhana-lipi-b1ZJG9stZ

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *