Kritik Sistem Pendidikan yang Tak Kunjung Usang Ala Album The Wall oleh Pink Floyd

Dark Side of The Moon bukanlah satu-satunya album yang menjadikan Pink Floyd sebagai legenda progressive-rock. Rilisan lainnya yang turut menemani album tersebut dalam predikat best-selling albums of all time tidak lain adalah The Wall, yang rilis pada 23 November 1979. Opera rock The Wall berhasil melambungkan kembali nama Pink Floyd dan juga melahirkan kembali satu lagu hit yang berjudul Another Brick in the Wall (Part 2), yang juga secara gamblang mengkritik betapa kakunya sistem pendidikan saat itu.

Ditulis oleh salah satu personelnya, Roger Waters, Another Brick in the Wall (Part 2) dianggap sebagai sebuah himne anarkis yang dapat digunakan untuk menyerang kebobrokan suatu sistem pendidikan. Tidak hanya itu, lirik yang memikat dari lagu tersebut juga kerap digunakan untuk menentang sejumlah sistem pendidikan tertentu yang diamanatkan oleh pemerintah sehingga beberapa negara yang tergelitik, seperti Afrika Selatan, terpaksa melarang lagu tersebut untuk diputar di radio.

We don’t need no education.
We don’t need no thought control.
No dark sarcasm in the classroom.
Teacher leave them kids alone.
Hey! Teacher! Leave them kids alone!
All in all it’s just another brick in the wall.
All in all you’re just another brick in the wall.

Begitulah sekiranya penggalan lirik yang diserukan oleh band rock asal Inggris tersebut. Para penggemar dan penafsir lirik saling sepakat bahwa inti dari seruan ciptaan Waters dkk itu tidak lain tertuju kepada bagaimana sistem pendidikan yang ada malah membuat siswa menjadi homogen dan jauh dari kata bebas. Kreativitas mereka dipangkas habis, termakan oleh rasa takut akan label pemberontak di ruang kelas.

Lagu lain dalam album The Wall yang juga mengkritik sistem pendidikan adalah The Happiest Days of Our Lives. Walaupun berdurasi kurang dari dua menit, The Happiest Days of Our Lives, selaku lagu yang dalam album tepat urutannya sebelum Another Brick in the Wall (Part 2), tetap memiliki pesan yang tidak kalah penting. Menurut sejumlah tafsir, Happiest Days of Our Lives menyerukan bahwa sistem pembelajaran yang hakiki dan feodal memang sering kali membuat siswa tidak berani mengutarakan pemikiran yang berbeda dan bersifat menentang, hanya karena mereka takut disalahkan.

Walaupun sudah rilis 39 tahun yang lalu, lirik-lirik tersebut dirasa masih relevan jika dijadikan sebagai suatu bentuk protes terhadap sistem pendidikan yang berlaku dewasa ini, khususnya di Indonesia. Polemik mengenai ketidaksetaraan perlakuan, baik antara dosen dengan mahasiswa maupun antara guru dengan murid, telah menjadi hal yang lazim didengar, utamanya ketika kita melintas di lorong-lorong kantin. Terlebih lagi, aturan-aturan sistem pendidikan yang dianggap revolusioner nyatanya malah semakin memperberat beban siswa dan mahasiswa. Segala keluh kesah siswa dan mahasiswa itu menjadikan lingkungan sekolah dan kampus seakan-akan sebuah penjara kelas bawah.

Sudah tidak asing rasanya jika kita menemui sejumlah pemangku kepentingan akademik yang terkesan tinggi hati, hanya karena mereka memegang wewenang tertinggi atas proses belajar mengajar yang terjadi di lingkungan sekolah dan kampus. Belum lagi ditambah embel-embel ‘budaya timur’ yang mengharuskan mereka yang diajar untuk hormat kepada yang lebih tua. Tidak sedikit dari para pemangku kepentingan akademik itu yang memanfaatkan budaya tersebut sebagai sarana pemuas ego dan mengesampingkan sikap profesionalnya.

Tenaga pengajar yang baik seharusnya memang benar-benar memiliki ketertarikan dan pengetahuan akan dunia pendidikan sehingga apa yang dikerjakannya pun menjadi murni karena keinginan, bukan keterpaksaan. Mereka harus sadar betul bahwa kunci dari sistem pendidikan yang baik ada pada tangan mereka.

Diharapkan nantinya tidak perlu lagi ada lagu-lagu berbau kritikan pedas terhadap sistem pendidikan di dunia, namun hanya ada sekumpulan lirik yang memuja bagaimana sistem pendidikan itu sendiri berhasil diubah oleh seorang tokoh pemangku kepentingan akademik yang berpengaruh.

 

Oleh: Nayla Erzani

 

SUMBER

https://www.songfacts.com/facts/pink-floyd/another-brick-in-the-wall-part-ii
http://www.thewallanalysis.com/another-brick-in-the-wall-part-2/
https://genius.com/6850153
https://genius.com/1488548

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *