[ #OnThisDay ] Hoax Ditengah Bencana, Refleksi Gempa Kolkata 1737

“Gempa” Kolkata 1737, India

 

Masih segar dalam ingatan gempa besar dengan magnitudo 7.0  yang mengguncang Lombok, korban jiwa tercatat sebanyak 563 jiwa. Gempa ini juga mengakibatkan 390.529 orang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi. Gempa ini mengalihkan perhatian publik yang semula tertuju pada event Asian Games 2018 serta drama menjelang Pilpres 2019. Belum selesai duka di Lombok, pada 22 September 2018 gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Sulawesi Tengah hingga mengakibatkan tsunami setinggi  11,3 meter yang meluluhlantakan kota Palu, Donggala, dan Mamuju. Menurut humas BNPB tercatat korban jiwa akibat gempa Palu sebanyak 2.045 orang yang tersebar di Kota Palu dan berbagai kabupaten disekitarnya. Gempa ini juga mengakibatkan 10.679 orang mengalami luka-luka dan 82.775 orang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi.

Bencana di Palu dan Lombok juga membuka ingatan lama masyarakat tentang dahsyatnya gempa bermagnitudo 9,0 serta Tsunami setinggi 30 meter yang melanda Aceh serta beberapa negara di sekitaran Samudera Hindia 14 tahun yang lalu, ketika itu korban jiwa di Aceh saja tercatat lebih dari 100.000 orang serta ratusan ribu lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman. Belum termasuk korban jiwa dan pengungsi dari Negara lainnya seperti Sri Lanka, Thailand, Malaysia, India dan Negara-negara lainnya yang terkena dampak dari gempa Aceh. Bencana ini juga tercatat sebagai salah satu bencana alam terbesar pada era modern. Masyarakat sebagian besar masih trauma dengan bencana alam yang terjadi, ingatan segar tentang tsunami Aceh juga masih membekas di masyarakat. Ketakutan tersebut diperparah dengan merebaknya hoax tentang bencana yang muncul di media sosial. seperti laporan sensasional tentang gempa bermagnitudo 8,9 yang akan melanda Jakarta dan sekitarnya dan isempat membuat kepanikan di tengah masyarakat ibukota sebelum akhirnya diklarifikasi oleh BMKG.

Bencana alam seperti gempa bumi bukanlah hal baru yang terjadi dalam sejarah, jutaan tahun yang lalu gempa sudah terjadi akibat pergeseran lempeng yang terus-menerus, beberapa gempa berkekuatan besar juga diikuti oleh tsunami dan memakan korban jiwa. Manusia sudah mengenal bencana alam semenjak zaman prasejarah. Sebelum adanya kamera, manusia mengabadikan kejadian dengan catatan sejarah baik dalam cerita turun-temurun serta lewat tulisan. Salah satu catatan sejarah tentang bencana alam yang terkenal adalah peristiwa bencana alam yang terjadi di Kolkata pada 11 Oktober 1737, yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 300.000 jiwa serta membuat kota pelabuhan Kolkata rusak berat. Namun beratus tahun setelahnya sejarawan mulai meragukan angka kematian yang begitu besar, dikarenakan informasi yang beredar di surat kabar (semula menjadi referensi) bertentangan dengan catatan pelaut yang sedang berada di Kolkata pada saat peristiwa terjadi.

Awalnya sejarawan mendapat informasi tentang bencana alam di Kolkata  dari catatan Thomas Oldham (1883) seorang ahli geologi Inggris yang mencari data tentang gempa di India. Oldham mengutip Gentleman’s Magazine edisi  Juni 1738-1739, yang berbunyi: “bahwa pada malam 11 Oktober 1737 terjadi badai hebat di mulut Sungai Gangga yang mengakibatkan air bah meluap dari sungai, kemudian pada saat yang bersamaan juga terjadi gempa bumi besar yang menghancurkan seluruh kota di sepanjang sisi sungai. Di Golgotta (Kolkata) saja, sebuah pelabuhan milik Inggris, dua ratus rumah serta sebuah menara gereja Inggris yang luar biasa tinggi tenggelam kedalam tanah tanpa patah. Juga dihitung bahwa sebanyak 20.000 kapal, barque, kapal-kapal kecil, perahu, dan sampan telah hanyut, termasuk Sembilan kapal Inggris di Sungai Gangga.“ (The 1737 Calcutta Earthquake and Cyclone Evaluated, 1994)

Oldham juga mengutip surat kabar London Magazine Juni 1738 yang berbunyi: “Pada malam antara 11 atau 12 Oktober lalu, terjadi badai yang mengamuk di hilir Sungai Gangga. Dan pada saat yang bersamaan terjadi guncangan keras dari gempa bumi yang menghancurkan banyak sekali rumah di sepanjang tepian sungai, di Golgotta (Kolkata) sebanyak 200 rumah hancur dan sebuah menara gereja Inggris yang tinggi dan megah tenggelam ke tanah tanpa patah. Diperkirakan 20.000 kapal dan perahu telah hanyut. Dari 9 kapal Inggris, 8 hilang dan sebagian besar tenggelam. Dari empat kapal Belanda di sungai, 3 hilang dengan semua kru dan kargo. 300.000 jiwa melayang dan air naik empat puluh kaki lebih tinggi dari biasanya di Sungai Gangga.” (The 1737 Calcutta Earthquake and Cyclone Evaluated, 1994)

Namun banyak dari infomasi yang beredar di surat kabar bertentangan dengan catatan pelaut yang berada di Kolkata saat bencana terjadi, terutama tentang bencana alam yang terjadi masih belum jelas apakah gempa bumi atau badai besar sehingga menimbulkan kebigungan dikalangan sejarawan. Juga angka korban tewas sendiri cenderung dibesar-besarkan,hal ini dibuktikan dalam jurnal The 1737 Calcutta Earthquake and Cyclone Evaluated  karya Roger Bilham (1994) yang memuat  catatan Thomas Joshua Moore, seorang kolektor yang bekerja untuk East India Company (EIC) di Kolkata yang sedang berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Menurut catatan Moore melaporkan ‘bahwa sebuah bencana alam besar telah terjadi di Kolkata pada 11 Oktober 1737. Air bah menghancurkan sebagian besar bangunan di kota, air bah juga menghancurkan pelabuhan-pelabuhan Eropa di sekitar kota dan menurut perkiraan Moore bencana tersebut menelan setidaknya lebih dari 3000 korban jiwa.” Dalam catatan Moore tak jelas bencana seperti apa yang terjadi, entah gempa bumi, tsunami, atau badai yang menghancurkan Kota Pelabuhan Kolkata. Yang jelas bencana tersebut telah merusak sebagian besar kota dan membuat ribuan jiwa melayang.

Tak hanya Moore yang menjadi saksi dari bencana besar tersebut, banyak pelaut Eropa lainnya yang pada waktu itu sedang berada di Kolkata saat bencana terbesar dalam sejarah tersebut terjadi. Mereka juga menjadi saksi mata langsung bencana besar ini. Pelaut Inggris dan Eropa lainnya di beberapa kapal dagang juga melaporkan bahwa setidaknya 20.000 kapal yang bersandar di Pelabuhan Kolkata hancur akibat bencana alam besar ini. Dalam deskripsi yang dijelaskan bahwa bencana alam ini disebabkan oleh angin topan yang menyebabkan badai besar, namun ketika laporan ini sampai ke Eropa, bencana di Kolkata disebabkan oleh hal lain yaitu gempa bumi besar.

Sensus pada abad ke 18 menunjukkan bahwa populasi Kota Kolkata hanya 20.000 jiwa saja, ini sudah termasuk populasi yang tinggal baik di perkotaan maupun pedesaan disekitar Kolkata. Berbanding terbalik dengan jumlah korban jiwa yang dilaporkan di surat kabar yang mencatat angka 300.000 jiwa yang justru melebihi jumlah dari penduduk Kolkata sendiri, sebuah angka yang fantastis.

 

 

Meskipun bukti tentang bencana apa yang terjadi di Kolkata masih simpang-siur dan jumlah korban tewas masih dipertanyakan, literatur populer sampai sekarang masih mencatat angka 300.000 korban jiwa dan penyebabnya sebagai gempa bumi. Ada dugaan penggunaan framing dalam penulisan berita pada peristiwa itu untuk memunculkan sensasionalisme, seperti membesarkan laporan awal dari semula 3.000 korban tewas menjadi “300.000”, serta dua bencana yang terjadi sekaligus dalam satu waktu untuk menciptakan lebih banyak rasa takut dan ketertarikan di kalangan pembaca awal abad ke-18. Meskipun sensasionalisme untuk menjual berita ini tidak pernah terbukti, tidak menutup kemungkinan para editor membungkus peristiwa tersebut dengan cerita “gempa bumi” karena itu akan  lebih banyak menarik minat di kalangan pembacanya. (The 1737 Calcutta Earthquake and Cyclone Evaluated, 1994).

Terlepas dari bencana apapun yang terjadi di Kolkata pada 1737 baik itu badai besar ataupun gempa bumi, peristiwa tersebut merupakan bencana besar yang telah menelan banyak korban. Bencana tersebut telah merenggut banyak nyawa dan menghancurkan tempat tinggal masyarakat disana. dan itu merupakan fakta yang tak bisa disangkal, hoax tentang bencana alam memang sudah lama muncul dan menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat. Jika hal ini dibiarkan tentu akan menimbulkan kepanikan yang tak perlu dan dapat merugikan masyarakat yang menjadi korban bencana. Tetap perlu hati-hati dan kritis dalam menyikapi informasi yang beredar meski ditengah kepanikan sekalipun.

 

Penulis:

M. Izzat

 

Daftar Pustaka

 

Departemen Kajian dan Aksi Strategis

Bidang Sosial dan Masyarakat

BEM Bima Fikom Unpad 2018

Kabinet Archipelago

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *