Words of Thoughts: RUU MiNol Minta Ditampol?

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru saja memasukan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) Larangan Minuman Alkohol ke dalam daftar Program Legislasi Nasional. Saat saya membaca salah satu pasalnya, saya tertawa sendiri. Mungkin setelah menutup kuping terhadap masyarakat dalam UU Cipta Kerja, sekarang DPR menutup matanya dalam merancang RUU ini.

Salah satu tujuan DPR dalam membuat RUU ini adalah karena pengaturan minuman beralkohol saat ini masih belum diatur secara terpadu dan komprehensif. RUU ini menurut saya setengah-setengah dan tidak jelas. Mungkin yang saya setuju dalam RUU ini adalah bagaimana orang yang dalam pengaruh alkohol merenggut nyawa orang lain. Menurut saya hal tersebut memang sepantasnya dibuat untuk kesadaran masyarakat Indonesia.

Sebelum membahas bahayanya RUU ini terhadap masyarakat Indonesia, mari kita bahas pasal yang membuat saya beropini bahwa RUU ini dibuat saat mereka menutup mata. Pasal tersebut ada pada pasal 8 ayat 2, lanjutan dari pasal lima, enam, tujuh yang berbunyi;

 

Pada pasal tersebut disebutkan beberapa pengecualian, yang membuat saya tertarik adalah pengecualian terhadap wisatawan. Sejatinya, wisatawan ada dua, yaitu wisatawan asing dan domestik. Namun, pada halaman penjelasan per-pasal disebutkan bahwa pasal tersebut cukup jelas. Jadi saya boleh melakukan yang dilarang pada pasal lima, enam, dan tujuh jika saya sedang berpergian ke kota lain?

Kemudian, pada poin e disebutkan dalam penjelasan per-pasal bahwa tempat yang diizinkan adalah toko bebas bea, hotel bintang lima, restoran dengan tanda talam kencana dan talam selaka, bar, pub, klub malam, dan toko khusus penjualan minuman beralkohol.

Karena pasal lima, enam, dan tujuh tidak berlaku kepada wisatawan domestik, jadi apakah ini adalah life hack yang diberikan oleh DPR? Apakah wisatawan domestik ditakdirkan untuk menjadi reseller? Jadi apakah wisatawan domestik boleh membeli pada toko khusus penjualan minuman beralkohol dan minum di mana saja? Waduh saya tidak tahu, mungkin bisa tanya ke DPR?

Setelah membahas pasal, mari kita bahas bahayanya RUU ini bagi masyarakat Indonesia. Karena RUU ini berisi larangan bagi siapapun untuk memproduksi, memasukkan, menyimpan, mengedarkan, dan/atau menjual minuman beralkohol, maka akan berdampak sekali bagi konsumen maupun produsen.

Melihat hal tersebut, dalam pandangan saya, probabilitas penjualan minuman yang aneh (dicampur kimia untuk memabukan) akan masif. Jika melihat bagaimana ganja dilarang di Indonesia kemudian salah satu masyarakat ‘pintar’ Indonesia membuat ganja sintetis dimana tidak ada kandungan ganja sama sekali, hanya saja tembakau yang dicampur dengan kimia.

Itu adalah pandangan awam saya sebagai masyarakat, mohon maaf jika ada salah kata, ini pure keresahan saya terhadap pemerintahan yang mana tidak pernah mendengarkan aspirasi, namun selalu membuat UU yang kontradiktif bagi masyarakat. Sekian dan terima kasih.

 

Oleh: Sulthan Ariq Aden

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *